Laporan Wartawan Tribunnews.com, Garudea Prabawati dan Gilang Putranto
TRIBUNNEWS.COM - Semangat dan antusias hingga binar mata penuh keingintahuan tampak menyelimuti suasana belajar di kelas 4 Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kebumen 1 Kendal, Jawa Tengah pagi, Kamis (5/2/2026).
Suasana belajar yang berbeda dari hari-hari biasa, alih-alih duduk diam memperhatikan penjelasan guru, belasan siswa justru terlihat sibuk menatap layar smartboard di depan mereka.
Di satu sisi ada yang serius menjawab pertanyaan di papan permainan, di sudut lain ada diskusi ringan antarteman sesekali terdengar, menandai proses belajar yang berlangsung dengan cara yang menyenangkan.
Melalui pemanfaatan smartboard, para siswa diajak mengikuti pembelajaran literasi numerasi yang dikemas dalam bentuk permainan edukatif.
Salah satu game yang dimainkan adalah permainan Bahasa Indonesia tentang lawan kata.
Dengan tampilan visual menarik dan sistem interaktif, siswa secara bergantian memilih jawaban yang tepat, bekerja sama dengan teman satu tim.
Aktivitas itu terlihat sederhana.
Namun di baliknya, ada gerakan besar yang sedang tumbuh pelan tapi pasti: upaya sistematis meningkatkan literasi dan numerasi anak-anak Kendal.
Baca juga: E-Kendali dan Perbup 49/2024: Ikhtiar Kabupaten Kendal Wujudkan SDGs Pendidikan Berkualitas
Kepala sekolah SDN 1 Kebumen, Diannita Ayu Kurniasih, bangga memperlihatkan video momen kreatif dan inovatif itu kepada Tribunnews.com, Kamis (20/11/2025).
Baginya, inovasi pembelajaran literasi numerasi bukan sekadar program sekolah, namun sebagai bentuk upaya mencerdaskan anak didik.
Dan juga membekali siswa dengan keterampilan dasar untuk memahami pelajaran, memecahkan masalah sehari-hari dan berpikir kritis.
“Literasi dan numerasi itu kebutuhan dasar mereka ketika dewasa nanti. Kalau dilakukan dengan hati, Insya Allah tujuan-tujuan lain akan ikut tercapai,” ujar Dian saat dikonfirmasi Tribunnews, Sabtu (7/2/2026).
Diketahui upaya peningkatan literasi numerasi pendidikan dasar di Kendal lahir dari kegelisahan atas data.
Jika melihat ke belakang, rapor pendidikan dasar di Kendal menunjukkan capaian literasi dan numerasi siswa yang sempat berada di titik lemah dibanding indikator lain.
Kondisi itu menjadi alarm bagi satuan pendidikan di Kendal bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kendal.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdikbud Kendal, Ninik Chaeroni, menyebut pada 2022, Indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan dasar Kendal berada di angka sekitar 69, kategori Tuntas Muda.
“Waktu itu literasi dan numerasi kita masih jauh sekali. Itu jadi perhatian serius kami,” ujarnya, saat dikonfirmasi Kamis (4/2/2026).
Sebagai salah satu sosok yang turut menggerakkan perubahan dirinya mengamini bahwa ada perjalanan panjang meningkatkan literasi dan numerasi di kabupaten yang ia dampingi sejak bertahun-tahun lalu.
“Untuk menguatkan literasi dan numerasi, tidak ada cara lain selain kolaborasi, juga memberikan pengajaran kepada anak didik dengan hati,” tutur Ninik, perempuan yang sebelumnya pernah menjadi Fasda Tanoto Foundation.
Ninik memahami betul apa yang dibutuhkan para guru hingga kepala sekolah di satuan pendidikan dalam rangka peningkatan literasi numerasi, kebutuhan itu ia temukan termasuk saat dirinya menjadi fasda khususnya untuk manajemen berbasis sekolah.
Sejak saat itu, Disdikbud bersama satuan pendidikan mulai membenahi strategi pembelajaran.
Mereka tidak berjalan sendiri.
Sejak 2018, Pemkab Kendal telah menjalin kolaborasi berkelanjutan dengan Tanoto Foundation melalui Program PINTAR.
Melalui PINTAR Tanoto Foundation, para guru di Kendal diberi ruang untuk merancang dan menjalankan proyek literasi–numerasi secara mandiri, sesuai tantangan dan karakteristik sekolah masing-masing.
Program ini menjadi titik balik penting bagi guru-guru untuk tidak hanya menjadi pelaksana, tetapi juga inovator pendidikan.
“Untuk menguatkan literasi dan numerasi, tidak ada cara lain selain kolaborasi,” ujar Ninik.
Upaya peningkatan kualitas pembelajaran di Kendal tak berhenti di ruang-ruang kelas, tetapi juga melalui gerakan berbagi pengetahuan antarguru.
Salah satu wadah yang lahir dari semangat kolaborasi tersebut adalah Kendal Pintar Berbagi (KPB), sebuah komunitas pembelajaran daring.
Hingga akhirnya upaya meningkatkan literasi numerasi perlahan membuahkan hasil.
Tahun 2023 menjadi fase menemukan formula: materi apa yang perlu dikuatkan, bagaimana guru didampingi, dan seperti apa model pembelajaran yang lebih bermakna.
Kepala Disdikbud Kendal, Ferinando Rodianus Alfredo Dorerito Bonay Feri menyebut lompatan skor indeks SPM signifikan terjadi pada capaian 2024.
Indeks SPM SD Kendal melonjak menjadi 83,36 dan masuk kategori Tuntas Madya.
Dengan capaian ini, Kendal berhasil naik dua tingkat dalam kurun dua tahun, sebuah lompatan yang menandakan perbaikan kualitas layanan pendidikan.
Kolaborasi baik tersebut tak hanya sampai di ruang kelas saja.
Masukan dari guru, kepala sekolah, pengawas, serta rekomendasi teknis Tanoto Foundation mendorong lahirnya Peraturan Bupati (Perbub) Kendal Nomor 49 Tahun 2024 tentang Gerakan Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi.
Regulasi ini menjadi tonggak penting karena mengubah praktik baik menjadi arah kebijakan resmi daerah.
“Semua sekolah sudah menjalankan. Kami rutin melakukan monitoring, baik secara tatap muka maupun daring melalui dashboard E-Kendali,” jelas Kepala Disdikbud Kendal, Feri kepada Tribunnews.com, Kamis (4/2/2026) lalu.
Menurutnya, Perbup ini dirancang agar penguatan literasi dan numerasi berjalan sistematis, terukur, dan berkelanjutan.
Upaya penguatan kebijakan diperkuat dengan inovasi digital bernama E-Kendali, yang mulai aktif dioperasikan pada Juli 2025.
Platform ini menampilkan data pendidikan secara informatif dan real-time.
Guru dan kepala sekolah bisa melihat grafik capaian tiap indikator, laporan kegiatan, hingga pemetaan wilayah berdasarkan tingkat ketercapaian.
“Melalui E-Kendali, sekolah bisa self-assessment, sekaligus berbagi dan mengadopsi praktik baik dari sekolah lain,” ujarnya.
Setelah indikator diisi, sistem menampilkan predikat capaian sekolah. Dari sana, Disdikbud dapat menentukan sekolah mana yang membutuhkan pendampingan intensif.
Pendekatan ini dinilai efektif mengingat Kendal memiliki 567 SD, sekitar 6.000 guru, dan tersebar di 20 kecamatan.
Sementara itu Regional Lead Tanoto Foundation, Anang Ainur Roziqin, menjelaskan pendekatan dalam hal peningkatan literasi numerasi di Kabupaten Kendal ada dua: penguatan praktik dan penguatan sistem.
Di sisi praktik, guru dan kepala sekolah dilatih serta didampingi menghasilkan praktik baik.
Di sisi sistem, Tanoto Foundation mendukung penguatan kebijakan berbasis bukti bersama Disdikbud Kendal.
“Kami membantu memetakan masalah, merumuskan intervensi, dan menyepakati indikator keberhasilan yang terukur,” ujar Anang (9/1/2026).
Hasil pemantauan E-Kendali juga didorong terintegrasi dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan RKAS, agar program literasi-numerasi didukung perencanaan dan anggaran yang jelas.
Seluruh upaya ini diarahkan untuk mendukung SDGs Tujuan 4: pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.
Anang menilai Perbup No. 49/2024 sebagai fondasi strategis penguatan literasi dan numerasi menjadi kebijakan sistemik.
"Fokus-fokus ini sekaligus menjadi kontribusi terhadap pencapaian SDGs tujuan 4, khususnya pada peningkatan kualitas hasil belajar dasar, penguatan kapasitas sistem pendidikan, dan pemerataan layanan pendidikan. Dengan demikian, kerja sama ini tidak hanya mendukung kebutuhan daerah, tetapi juga memastikan praktik pembangunan pendidikan di Kendal selaras dengan agenda peningkatan kualitas pendidikan secara nasional dan global," ujar Anang kepada Tribunnews.com.
Sebagai bagian dari komitmen lebih luas, Tanoto Foundation bersama UNDP dan Bappenas juga menggagas SDGs Academy Indonesia, yang kini dikelola Sekretariat Nasional SDGs di bawah Bappenas.
Pendidikan baik yang terlaksana di ruang-ruang kelas Kendal terus menggeliat dan berevolusi sedikit demi sedikit namun pasti.
Terdapat benang merah dari kebiasaan sederhana seperti bermain game edukatif, membaca 15 menit, diskusi guru, grafik di dashboard E-Kendali, hingga regulasi tingkat kabupaten.
Yakni keyakinan bahwa setiap anak berhak memahami bacaan dengan percaya diri dan memecahkan persoalan angka tanpa rasa takut.
Perubahan itu lahir dari kolaborasi baik yang terus terjalin, tekun, berbasis data, dan dijaga bersama.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.