Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Sistem kesehatan di Jalur Gaza menghadapi tekanan berat akibat konflik berkepanjangan, keterbatasan tenaga medis, serta meningkatnya kebutuhan evakuasi pasien.
Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah pada awal Februari memungkinkan evakuasi medis terbatas untuk pertama kalinya dalam hampir 11 bulan.
Evakuasi Medis dan Pasien Menunggu Perawatan
Antara 2 hingga 10 Februari, PBB dan mitranya mendukung evakuasi 142 pasien beserta pendamping.
Sebanyak 91 pasien dievakuasi melalui Rafah dan 51 melalui Kerem Shalom.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, sejak Oktober 2023 hingga Januari 2026, sebanyak 10.762 pasien dan lebih dari 12.000 pendamping telah dievakuasi secara medis ke luar Gaza.
Namun ribuan pasien masih menunggu. Lebih dari 18.500 orang, termasuk sekitar 4.000 anak-anak, membutuhkan evakuasi medis karena layanan spesialis tidak tersedia di Gaza.
Save the Children memperkirakan proses evakuasi dengan kecepatan saat ini dapat memakan waktu lebih dari satu tahun.
Tekanan pada Infrastruktur Kesehatan
Sistem kesehatan lokal menghadapi kekurangan tenaga profesional akibat kerusakan infrastruktur dan hambatan pendidikan.
"Sistem kesehatan Gaza terus menghadapi tekanan signifikan akibat kekurangan staf dan kerusakan infrastruktur," dilansir dari situs resmi United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UN OCHA), Sabtu (14/2/2026).
Banyak calon dokter dan tenaga kesehatan tidak dapat menyelesaikan pelatihan karena kendala finansial.
Program dukungan yang melibatkan Program Pembangunan PBB membantu 470 mahasiswa kesehatan tingkat akhir menyelesaikan pendidikan dan mempercepat sertifikasi mereka.
Upaya rehabilitasi fasilitas kesehatan dan perluasan kapasitas perawatan kritis terus dilakukan, meskipun sebagian pasokan medis menghadapi kendala persetujuan.
Kualitas Air dan Dampak Kesehatan
Krisis kesehatan diperburuk oleh kualitas air yang tidak aman. Analisis terhadap 4.978 sampel air pada 2025 menunjukkan lebih dari 77 persen tidak memenuhi standar kesehatan.
“Lebih dari 77 persen sampel air tidak memenuhi standar kesehatan,"tulis UN OCHA dalam laporannya.
Kontaminasi air berkontribusi pada peningkatan penyakit.
Sekitar 5.800 kasus hepatitis A dan lebih dari 496.000 kasus diare akut dilaporkan sepanjang 2025, dengan hampir separuh kasus diare terjadi pada anak di bawah lima tahun.
“Kualitas air tetap tidak aman, yang berkontribusi pada peningkatan kasus diare dan hepatitis A, terutama di kalangan anak-anak,"tegasnya.
Pengiriman air darurat terus dilakukan. Mitra kemanusiaan mendistribusikan hampir 20.000 meter kubik air minum per hari melalui ratusan titik distribusi di seluruh Gaza.
Serangan yang masih berlangsung turut membahayakan tenaga medis dan fasilitas kesehatan.
Ratusan pekerja bantuan dilaporkan tewas sejak Oktober 2023, menambah tekanan terhadap layanan kesehatan yang sudah terbatas.
Keterbatasan akses medis, tingginya kebutuhan evakuasi, dan masalah kesehatan lingkungan memperlihatkan besarnya tantangan sistem kesehatan Gaza di tengah krisis kemanusiaan yang berlanjut.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.