TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gangguan irama jantung yang sering luput dari perhatian kini menjadi sorotan serius karena trennya terus meningkat di Indonesia dan berpotensi memicu stroke jika tidak terdeteksi sejak dini.

Sekretaris Bidang 1 PERITMI/Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), dr. Ardian Rizal, Sp.JP, Subsp. Ar. (K), FIHA, menilai tren ini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup modern dan meningkatnya penyakit metabolik di masyarakat.

“Dalam 21 tahun terakhir, Indonesia tercatat menjadi salah satu wilayah yang memiliki kenaikan prevalensi fibrilasi atrium tertinggi di kawasan Association of Southeast Asian (ASEAN)," ungkapnya dalam media Press Conference “Pulse Day 2026: Dari Kesadaran Hingga Aksi Nyata Untuk Jantung Sehat” di Jakarta, Sabtu (14/2/2026). 

Menurutnya, peningkatan usia harapan hidup dan pola hidup kurang sehat mempercepat munculnya faktor risiko gangguan irama jantung. 

Tantangan terbesar muncul karena banyak penderita tidak merasakan gejala apa pun hingga komplikasi serius terjadi.

Baca juga: Awas Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Ganggu Irama Jantung, Risiko Meningkat Seiring Usia

“Tantangan terbesar lainnya adalah sifat penyakit ini yang sering kali asimtomatik atau tanpa gejala. Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis justru setelah pasien mengalami komplikasi serius seperti stroke,” jelas dr. Ardian.

Deteksi Dini Cegah Risiko Stroke

Dokter menjelaskan, masyarakat bisa menekan risiko komplikasi dengan melakukan skrining sejak dini. 

Ia mendorong penggunaan metode manual MENARI serta pemanfaatan teknologi wearable device untuk mengenali gangguan irama jantung lebih cepat.

Deteksi awal memungkinkan dokter memberikan intervensi medis sebelum komplikasi berkembang karena bisa membantu menurunkan risiko kecacatan akibat stroke sekaligus menjaga kualitas hidup pasien dalam jangka panjang.

Baca juga: Bukan Sekadar Berdebar, Gangguan Irama Jantung Tingkatkan Risiko Stroke hingga 6 Kali Lipat

Kampanye kesadaran ini juga digaungkan dalam peringatan Pulse Day 2026 yang melibatkan kolaborasi komunitas medis, termasuk jejaring regional seperti Asia Pacific Heart Rhythm Society. 

Momentum tersebut mengajak masyarakat lebih peduli terhadap ritme jantungnya sendiri.

Manfaatkan Wearable Device 

Perkembangan teknologi turut memperkuat upaya deteksi dini. Perangkat wearable yang dulu hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini berkembang menjadi alat skrining medis berbasis sensor canggih.

“Perkembangan teknologi wearable device dinilai semakin memperkuat upaya deteksi dini tersebut. Perangkat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai pelacak kebugaran kini telah berevolusi menjadi alat skrining medis real-time,” kata dr. Ardian.

Integrasi sensor fotoplethismografi (PPG) dan elektrokardiogram (EKG) satu sadapan memungkinkan pemantauan irama jantung berlangsung terus-menerus di luar rumah sakit. 

Teknologi ini membantu mendeteksi episode fibrilasi atrium yang bersifat hilang-timbul dan kerap terlewat dalam pemeriksaan konvensional.

Meski teknologi memberi kemudahan, dr. Ardian mengingatkan masyarakat untuk tidak sepenuhnya bergantung pada perangkat digital. 

Wearable device berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penentu diagnosis medis.

“Tapi perlu dipahami bahwa teknologi tetap punya keterbatasan. Perangkat ini berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan penegak diagnosis medis,” tegasnya.

Ia meminta pengguna menindaklanjuti setiap notifikasi gangguan irama jantung dengan pemeriksaan EKG klinis 12 sadapan oleh dokter jantung. 

Konfirmasi medis memastikan diagnosis akurat sekaligus menentukan terapi yang tepat. Kesadaran terhadap irama jantung kini menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat. 

Melalui kebiasaan sederhana seperti metode MENARI dan pemanfaatan teknologi secara bijak, masyarakat dapat mengambil peran aktif dalam mencegah stroke dan menjaga kualitas hidup jangka panjang.

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.