Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Penglihatan buram sering dianggap hal sepele, apalagi saat usia bertambah. 

Banyak orang memilih menunda periksa mata dan mengira itu hanya bagian dari proses penuaan biasa. 

Padahal, di balik keluhan tersebut bisa tersembunyi katarak, penyebab kebutaan yang sebenarnya dapat diatasi dengan prosedur singkat.

Data terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan satu dari dua orang yang menghadapi kebutaan akibat katarak masih belum mendapatkan akses operasi. 

Artinya, jutaan orang di dunia hidup dengan gangguan penglihatan yang seharusnya bisa dipulihkan.

Temuan ini diperkuat studi yang dipublikasikan di The Lancet Global Health.

 

Studi tersebut menyoroti bahwa hampir setengah penderita kebutaan akibat katarak di dunia masih membutuhkan operasi untuk mendapatkan kembali penglihatannya.

Katarak terjadi ketika lensa mata menjadi keruh sehingga penglihatan tampak berkabut, redup, dan makin lama bisa mengarah pada kebutaan. 

Saat ini, lebih dari 94 juta orang di seluruh dunia mengalami katarak. Menariknya, solusi untuk kondisi ini tergolong sederhana. 

Operasi katarak hanya memakan waktu sekitar 15 menit dan termasuk salah satu tindakan medis paling hemat biaya dengan hasil pemulihan yang cepat.

“Operasi katarak adalah salah satu alat paling ampuh yang kita miliki untuk mengembalikan penglihatan dan mengubah kehidupan,” kata Devora Kestel dari WHO dilansir dari situs resmi, Sabtu (14/2/2026). 

Baca juga: Kemensos Hadirkan Program Operasi Katarak Gratis bagi Masyarakat Jawa Barat

“Ketika orang mendapatkan kembali penglihatan mereka, mereka mendapatkan kembali kemandirian, martabat, dan kesempatan,"sambung Debora. 

Dalam 20 tahun terakhir, cakupan operasi katarak global memang meningkat sekitar 15 persen. 

Namun, pertambahan populasi lansia membuat kebutuhan operasi tumbuh lebih cepat. 

Pemodelan terbaru memperkirakan peningkatan cakupan hanya sekitar 8,4 persen dalam dekade ini, masih jauh dari target kenaikan 30 persen pada 2030.

Kesenjangan akses paling besar terjadi di kawasan Afrika. 

Studi terhadap 68 negara pada 2023–2024 menunjukkan tiga dari empat orang yang membutuhkan operasi katarak di wilayah tersebut belum mendapatkan perawatan. 

Di berbagai kawasan dunia, perempuan juga cenderung memiliki akses lebih rendah terhadap layanan operasi dibanding laki-laki.

Hambatan ini berkaitan dengan keterbatasan tenaga profesional perawatan mata, fasilitas yang belum merata, biaya yang harus ditanggung pasien, hingga waktu tunggu yang panjang.

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan mata masih relatif rendah.

Selain faktor usia, risiko katarak dapat meningkat akibat paparan sinar UV-B berlebihan, kebiasaan merokok, penggunaan kortikosteroid, dan diabetes. 

Baca juga: Kembalikan Harapan Pasien Katarak, Perusahaan Ini Gelar Operasi Gratis di RS Unpad

Faktor-faktor ini membuat gangguan penglihatan bisa muncul lebih cepat dari yang diperkirakan.

WHO mendorong negara-negara untuk memperluas skrining penglihatan di layanan kesehatan primer, memperkuat infrastruktur bedah, dan menambah tenaga perawatan mata, terutama di daerah terpencil. 

Upaya khusus untuk menjangkau perempuan dan komunitas yang kurang terlayani dinilai penting agar manfaat layanan kesehatan mata bisa dirasakan lebih merata.

Dengan langkah yang tepat, operasi katarak berpotensi menjadi intervensi kesehatan yang dapat diakses semua orang. 

Akses yang lebih luas bukan hanya menyelamatkan penglihatan, tetapi juga membantu jutaan orang kembali mandiri dan produktif dalam kehidupan sehari-hari.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.