Oleh: Salman Ahmad
KAKANDA Armin Mustamin Toputiri, salah seorang suhu kami, memberi komentar ringkas, terhadap muhasabah ke Tiga Belas, tadi malam.
Komentarnya singkat: “Ekor kebaikan, mohon edisi berikut... sbb jika ekor kebaikan konsis, ekor keburukan tak mesti ada.”
Benar, jika ekor kebaikan konsisten dan sungguh-sungguh, ia bisa membuat ekor keburukan tak lagi relevan.
Tetapi bukan karena keburukan itu tak pernah lagi ada.
Ia akan selalu ada.
Hanya saja, ia diputus, oleh kesadaran.
Memang, ada sebagian orang sering membayangkan hidup sebagai arena pertarungan antara hitam dan putih.
Itu saja.
Seolah-olah jika sudah ada noda, maka kain itu selamanya ternoda.
Atau sebaliknya, jika sudah berbuat baik, maka lembaran gelap otomatis terhapus.
Padahal, dalam realitasnya, ia tidaklah sesederhana itu.
Apalagi jika dibawa pada ranah kehidupan batin, masalahnya semakin menjadi tidak sederhana.
Kita tidak pernah lepas dari dua kemungkinan ekor.
Yang satu adalah ekor keburukan: ia menarik ke bawah.
Setiap kali keburukan diulang tanpa penyesalan, yang dulu terasa salah, lama-lama terasa biasa.
Yang dulu membuat gelisah, lama-lama tidak lagi mengusik.
Itulah gerakan ke bawah: standar nurani menurun.
Ia tumbuh setiap kali kita mengabaikan suara kecil dalam diri yang berkata, “Ini keliru.”
Ia memanjang setiap kali kita memilih pembenaran daripada pengakuan.
Yang kedua, ekor kebaikan.
Ia tumbuh dari pilihan-pilihan kecil yang konsisten, menahan diri ketika marah, meminta maaf ketika salah, mengembalikan yang bukan hak, memperbaiki yang sempat dirusak.
Ekor ini tidak sekadar menempel; ia mengangkat.
Ia memperluas ruang batin. Ia tidak lagi reaktif.
Ia tidak lagi mudah tersulut.
Ada jarak antara dorongan dan keputusan.
Ia mengangkat kualitas kesadaran.
Namun yang penting adalah; kebaikan yang sejati bukanlah sekadar kosmetik moral.
Ia bukan lapisan cat yang menutupi karat.
Ia adalah sebentuk perubahan arah.
Keberanian untuk melihat ke belakang, mengakui ada ekor gelap yang selama ini kita seret, lalu dengan sadar memotongnya.
Ia bukan hanya penyesalan emosional.
Ia adalah keputusan eksistensial.
Dalam keputusan itulah ekor keburukan akan kehilangan relevansinya.
Dalam tradisi spiritualitas, Rahmat, selalu disebut lebih luas daripada murka.
Begitu Prof Amri, menjelaskannya kepada saya tadi siang.
Bahkan Zat Yang Maha Agung Itu, memperkenalkan dirinya pertama kali, tidak dalam konteks Murka, tetapi dalam wujud kasih sayang dan Rahmat.
Ini bukan kalimat penghiburan kosong.
Ia adalah pernyataan tentang kemungkinan, sekaligus motivasi, bahwa tidak ada ekor keburukan yang terlalu panjang untuk diputus.
Tidak ada jejak gelap yang tak bisa dihentikan pertumbuhannya.
Namun rahmat tidak bekerja tanpa kesadaran.
Selama seseorang masih menganggap ekor keburukan itu ringan, wajar, bisa dimaklumi, ia akan terus menyeretnya.
Namun, tatkala ia berhenti, dan berkata dalam hati, “Cukup,” pada saat itu sesuatu berubah.
Ekor itu mulai memendek.
Maka hidup bukan soal memastikan kita tak pernah memiliki ekor gelap.
Itu mustahil.
Hidup adalah soal ekor mana yang kita pelihara lebih panjang.
Setiap hari, kita sedang menambah panjang salah satunya.
Setiap pilihan kecil memperpanjang satu dan memendekkan yang lain.
Mungkin, muhasabah yang lebih jujur bukan bertanya, “Apakah saya punya keburukan?” Melainkan, “Apa yang sedang saya rawat saat ini? Apa yang sedang saya beri makan?” Karena pada akhirnya, kita ditentukan oleh arah yang kita pilih secara konsisten.
Jika yang dipanjangkan adalah ekor kebaikan, yang lahir dari kesadaran, dari niat memperbaiki, maka perlahan ekor keburukan akan kehilangan daya tariknya.
Dan mungkin, langkah kita akan menjadi lebih ringan. (*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.