Citizen Reporter: Sheren Putri Pongkapadang
Siswi SMA Frater Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Sejak kelas XI, saya bergabung dengan ekstrakurikuler Jepang di SMA Frater Makassar karena ketertarikan saya terhadap budaya Jepang yang sudah tumbuh sejak lama, baik melalui anime, musik J-Pop, maupun cerita teman-teman.

Kegiatan yang rutin diadakan setiap Kamis sepulang sekolah ini langsung menarik perhatian saya dan memberi kesempatan untuk belajar lebih banyak.

Selama lebih dari satu tahun, saya mendapat banyak pengalaman berharga.

Ekstrakurikuler Jepang tidak hanya mengajarkan bahasa, tetapi juga memperkenalkan tradisi, permainan, makanan, hingga filosofi hidup Jepang.

Semua kegiatan tersusun rapi berkat jadwal yang disiapkan Farida Sensei dan Barbara Sensei, sehingga setiap pertemuan selalu menyenangkan.

Bagi saya, ekstrakurikuler ini bukan sekadar wadah belajar, melainkan ruang untuk merasakan langsung budaya Jepang sekaligus mempererat persahabatan Indonesia–Jepang.

Pengalaman ini membuat saya semakin mengenal budaya Jepang dan bangga dapat menjadi bagian dari kegiatan yang penuh makna dan keceriaan.

Berikut adalah beberapa kegiatan yang paling berkesan selama perjalanan saya di ekstrakurikuler Jepang.

Permainan Fukuwarai

Salah satu kegiatan pertama yang saya ikuti adalah permainan tradisional Jepang bernama fukuwarai.

Dalam permainan ini, kami harus menempelkan potongan wajah seperti mata, hidung, dan mulut ke gambar wajah kosong sambil menutup mata.

Tentu saja hasilnya sering kali lucu dan tidak sesuai, ada yang menempelkan hidung di dahi atau mulut di samping pipi.

Seluruh ruangan dipenuhi tawa.

Dari permainan sederhana ini, saya merasakan bagaimana Jepang memiliki cara unik untuk menghadirkan kebahagiaan.

Saya juga belajar bahwa permainan tradisional bisa menjadi jembatan persahabatan, karena saat itu kami semua merasa dekat satu sama lain tanpa peduli siapa yang lebih jago.

Membuat Dorayaki

Tidak lama setelah itu, sesuai jadwal yang sudah ditentukan, kami melakukan kegiatan memasak dorayaki, kue manis khas Jepang yang terkenal dari tokoh Doraemon.

Membuat dorayaki ternyata tidak semudah membelinya. Kami harus mengocok adonan dengan sabar agar hasilnya lembut.

Setelah adonan matang di atas wajan, kami mengoleskan isian kacang merah manis (anko).

Bagi saya, inilah momen pertama saya merasakan bagaimana budaya kuliner Jepang penuh dengan kesederhanaan tetapi tetap memiliki cita rasa khas.

Saat dorayaki buatan sendiri disantap, meski bentuknya tidak sempurna, rasanya jauh lebih nikmat karena dibuat bersama teman-teman.

Omamori dari Kertas Origami

Kegiatan berikutnya yang sudah terjadwal adalah membuat omamori atau jimat keberuntungan, yang biasanya dijual di kuil-kuil Jepang.

Namun, kami membuat versi sederhana dari kertas origami.

Dengan lipatan-lipatan kecil, kertas itu berubah menjadi sebuah jimat mungil yang cantik.

Sensei juga menyediakan kertas kecil bertuliskan harapan pada: (enmusubi: jodoh), (gakugy? j?ju: keberhasilan akademik), (kaiun: keberuntungan),  (k?ts? anzen: keselamatan lalu lintas) untuk ditempelkan pada bagian depan omamori.

Di dalamnya, kami menuliskan doa atau harapan masing-masing.

Saya menulis harapan agar bisa semakin lancar berbahasa Jepang dan bisa melanjutkan pendidikan serta bekerja di Jepang. 

Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa budaya Jepang sangat menghargai simbol doa dan keberuntungan, dan itu terasa sangat dekat dengan tradisi Indonesia yang juga kaya akan makna spiritual.

Membuat Kare Raisu

Hari Kamis berikutnya, kami sesuai agenda kembali berkumpul untuk mencoba membuat makanan khas Jepang lainnya yaitu kare raisu (nasi kare Jepang).

Kare raisu adalah nasi dengan kuah kari kental berisi daging, wortel, dan kentang.

Rasanya gurih manis, berbeda dengan kari khas Indonesia yang lebih pedas.

Membuatnya butuh waktu karena bumbunya harus dimasak perlahan hingga meresap.

Membuat Makisushi

Selain kegiatan-kegiatan sebelumnya, kami juga pernah belajar membuat makanan khas Jepang lainnya yaitu makizushi atau sushi gulung.

Kami menyiapkan bahan-bahan seperti nasi sushi, nori (rumput laut), serta berbagai isian seperti sosis, crab stick, sayuran, dan tamago (telur gulung khas Jepang).

Proses membuat makizushi sangat menyenangkan.

Pertama-tama, nasi yang sudah matang dan didinginkan diletakkan di atas lembaran nori.

Setelah itu, kami menambahkan isian sesuai selera di tengah-tengahnya.

Dengan bantuan matras bambu, nori dan nasi digulung perlahan hingga berbentuk silinder panjang.

Bagian paling menegangkan adalah saat memotong gulungan sushi menjadi potongan kecil.

Meski hasil potongan kami tidak selalu rapi, namun rasanya tetap lezat dan membuat kami masing-masing bangga dengan hasil karyanya.

Kunjungan Mrs. Arai Miwa

Salah satu momen paling spesial dalam ekstrakurikuler Jepang adalah ketika kami mendapat kunjungan dari Mrs. Arai Miwa, seorang tamu dari Jepang.

Beliau sangat ramah dan hangat, membuat kami merasa bangga bisa menyambut langsung tamu dari negeri yang budayanya kami pelajari.

Pada kesempatan itu, kami diajari membuat hanko sederhana dari penghapus.

Hanko adalah cap atau stempel pribadi yang biasa digunakan di Jepang.

Dengan alat ukir kecil, kami membuat pola sederhana di atas penghapus, lalu mencobanya di atas kertas.

Pada saat itu, saya membuat pola nama saya yaitu (Sheren).

Rasanya menyenangkan sekaligus menantang.

Kegiatan ini memberi saya pengalaman nyata tentang budaya otentik Jepang, langsung dari orang Jepang sendiri.

Opening Ceremony Porseni dengan Tarian Soran Bushi

Salah satu momen paling berkesan adalah saat ekstrakurikuler Jepang tampil di Opening Ceremony Porseni dengan membawakan tarian tradisional Soran Bushi.

Mengenakan yukata dan happi, kami menari penuh semangat diiringi musik khas Jepang.

Momen itu membuat saya merasa bahwa ekstrakurikuler Jepang bukan hanya wadah belajar budaya, tetapi juga sarana memperkenalkan persahabatan Indonesia–Jepang kepada orang lain.

Setelah lebih dari satu tahun mengikuti ekstrakurikuler Jepang, saya merasa pengalaman ini memberi banyak pelajaran serta kenangan berharga.

Jadwal rutin setiap Kamis selalu membuat saya menantikan kegiatan berikutnya dengan penuh semangat.

Sebenarnya masih banyak kegiatan lain, seperti menonton anime bersama, belajar lagu Jepang, hingga berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Salah satunya melalui Yuki, seorang siswa yang lahir di Indonesia, sejak kecil pindah ke Jepang, tetapi kembali melanjutkan pendidikan di SMA Frater Makassar karena mengikuti orang tuanya yang bekerja.

Setiap kegiatan, sekecil apa pun, selalu memberi kesan tersendiri.

Bagi saya, ekstrakurikuler ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga jembatan persahabatan Indonesia–Jepang sekaligus keluarga kedua yang penuh keceriaan.

Karena itu, saya sering mengajak teman dan adik kelas bergabung agar mereka juga merasakan manfaatnya.

Melalui kegiatan ini, saya belajar bahwa persahabatan dapat terjalin melalui tawa, makanan sederhana, dan tarian yang dipersembahkan dengan sepenuh hati.

Itulah sebabnya saya bangga menjadi bagian dari ekstrakurikuler Jepang SMA Frater Makassar.

Naskah telah disunting oleh Ibu Meta Sekar Puji Astuti, Ph.D (Ketua program studi kajian Budaya, Dosen Prodi Departemen Sastra Jepang FIB UNHAS-PERSADA).

(*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.