BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat ini dunia dihebohkan kabar merebaknya suspek Hantavirus yang berawal dalam klaster kapal pesiar MV Hondius.

Berawal dari dugaan seorang penumpang pria yang sebelumnya melakukan perjalanan panjang di Amerika Selatan sebelum naik ke kapal pesiar tersebut.

Dalam laporan WHO tertanggal 8 Mei 2026, kasus pertama disebut naik kapal pada 1 April 2026 setelah lebih dari tiga bulan bepergian di Argentina, Chili dan Uruguay.

Pria dewasa itu kemudian mulai mengalami gejala pada 6 April dan meninggal dunia di atas kapal pada 11 April.

Baca juga: Cegah Ancaman Virus Nipah, Dinkes Tanahlaut Waspadai Jalur Jemaah Haji-Umrah

Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia.

Infeksi Hantavirus pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan seringkali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung jenis virus dan lokasi geografis.

Di Amerika Serikat, infeksi diketahui menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang pesat dan mempengaruhi paru-paru dan jantung.

Sedangkan di Eropa dan Asia hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang terutama mempengaruhi ginjal dan pembuluh darah.

Dikutip melalui kompas.com, Selasa (12/5/2026) virus ini mulai memasuki wilayah Kalimantan usai satu pasien terkonfirmasi hantavirus di Kalimantan Barat (Kalbar).

Pasien tersebut meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama satu hari di rumah sakit.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, membenarkan adanya kasus tersebut.  
“Iya, ditemukan satu kasus virus Hanta di Kalbar. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi, salah satunya Kalimantan Barat,” ujar Harisson, dilansir dari TribunPontianak, Senin (11/5/2026).

Harisson menjelaskan, pasien masuk rumah sakit pada Sabtu (2/5/2026) dalam kondisi yang sudah sangat buruk. Setelah itu, pasien mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (3/5/2026).

“Pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi umum yang sangat buruk,” kata Harisson.

"Sudah terjadi ikterik atau tubuh menguning, mengalami anuria, atau tidak ada air kemih, serta demam tinggi yang sudah berlangsung selama empat hari sebelum dibawa ke rumah sakit," tambahnya.

Harisson menegaskan bahwa penanganan kasus ini sudah dilakukan sesuai standar operasional prosedur dari Kementerian Kesehatan.

Saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat total 23 kasus hantavirus terkonfirmasi di Indonesia, dengan satu diantaranya berasal dari Kalbar.

“Penanganan virus hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” ujarnya.

Cara Pencegahan Hantavirus Menurut WHO

  • Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja
  • Menutup celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan.
  • Menyimpan makanan dengan aman
  • Menggunakan praktek pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi oleh hewan pengerat
  • Menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan penyedot debu
  • Membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan.
  • Memperkuat praktik kebersihan tangan.

Selama wabah atau ketika kasus dicurigai, identifikasi dan isolasi dini kasus, pemantauan kontak dekat dan penerapan langkah-langkah pencegahan infeksi standar sangat penting untuk membatasi penyebaran lebih lanjut.

Merujuk Buku Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta di Indonesia yang diterbitkan Kemenkes RI tahun 2023, terdapat sejumlah upaya pencegahan faktor resiko penularan Hantavirus yang dapat diterapkan masyarakat Indonesia.

Oleh karena penyakit virus Hanta merupakan penyakit menular, maka perlu menerapkan kegiatan pengendalian faktor risiko secara umum pada setiap individu.

Cara Pencegahan Hantavirus Menurut Kemenkes RI

1. Menjaga kebersihan tangan dengan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 40-60 detik atau menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol selama 20-30 detik.

2. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor.

Jika perlu menyentuh wajah, pastikan tangan bersih.

3. Menjaga daya tahan tubuh seperti konsumsi gizi seimbang, istirahat cukup, dan melakukan aktivitas fisik.

4. Menerapkan etika batuk/bersin.

5. Mengelola kondisi penyerta/komorbid tetap terkontrol.

6. Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit.

Karena wabah Hantavirus pada tahun 2026 ini ditemukan pada pelaku perjalanan, masyarakat Indonesia juga dapat mengikuti anjuran pencegahan dari Kemenkes berikut ini.

Cara Pencegahan Risiko Penularan Hantavirus pada Pelaku Perjalanan

1. Hindari faktor risiko sesuai kondisi daerah tujuan.

2. Jika berkunjung ke daerah yang padat atau habitat hewan penyebab penyakit, gunakan masker.

3. Segera datangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika mengalami gejala yang menunjukkan suspek penyakit Hantavirus.

(Banjarmasinpost.co.id/Danti Ayu)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.