Beijing (ANTARA) - Sekelompok peneliti dari Universitas Peking dan Akademi DAMO, yang berada di bawah naungan Alibaba Group, baru-baru ini menerbitkan data inventaris yang komprehensif dan berpresisi tinggi dari infrastruktur pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) China di dalam jurnal Nature.

Diterbitkan pada pekan ini, penelitian tersebut menawarkan evaluasi berbasis data mengenai bagaimana koordinasi antardaerah dapat meningkatkan integrasi energi terbarukan dalam sistem energi terbarukan China, yang merupakan sistem energi terbarukan terbesar dan tercepat pertumbuhannya di dunia saat ini.

Tim peneliti menggunakan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menganalisis citra satelit beresolusi tinggi berukuran lebih dari 7,56 terabita. Dengan model AI ini, tim peneliti dapat mengidentifikasi dan memetakan 319.972 fasilitas tenaga surya dan 91.609 turbin angin di 1.915 wilayah di China pada 2022.

Kumpulan data terperinci ini memberikan "gambaran dari atas (bird's eye view) tentang lanskap energi terbarukan nasional," kata Liu Yu, profesor di Fakultas Ilmu Bumi dan Antariksa, Universitas Peking, yang merupakan penulis utama dalam penelitian tersebut.

Menurut temuan utama penelitian ini, perluasan cakupan koordinasi geografis meningkatkan secara signifikan efektivitas komplementaritas PLTB dan PLTS. Kedua fasilitas tersebut saling melengkapi, karena PLTS mencapai puncak produktivitas energi pada siang hari, sedangkan PLTB kerap menghasilkan lebih banyak energi pada malam hari. Karenanya, kedua fasilitas ini dapat meratakan variabilitas yang ada pada sumber-sumber energi terbarukan di daerah tertentu.

Penelitian ini memodelkan empat strategi berbeda untuk mengintegrasikan energi terbarukan tersebut, mulai dari integrasi tingkat provinsi hingga koordinasi penuh tingkat nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa strategi koordinasi antarprovinsi berskala nasional merupakan pendekatan yang paling efektif


Dalam sistem dengan fleksibilitas pengiriman (dispatchable flexibility) 80 persen, pendekatan ini dapat meningkatkan penetrasi energi terbarukan yang efektif sebesar 99,88 terawatt-jam (TWh), menurut penelitian tersebut.

Jumlah ini setara dengan 9,1 persen dari total energi tenaga surya dan bayu yang dihitung dalam penelitian ini dan dapat memenuhi kebutuhan listrik rata-rata nasional selama kurang lebih 120 jam. Yang terpenting, angka ini mewakili jumlah signifikan energi bersih "baru" yang seharusnya terbuang karena pembatasan produksi, tanpa memerlukan kapasitas pembangkit tambahan.

Dengan memanfaatkan AI untuk menciptakan fondasi data yang kuat, penelitian ini menawarkan jalur yang terukur bagi China untuk mengintegrasikan sumber daya terbarukannya yang melimpah secara lebih efisien serta mempercepat pencapaian target netralitas karbonnya.