TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kesiapan personel dalam menghadapi berbagai kondisi darurat dinilai menjadi salah satu faktor penting menjaga keandalan sistem kelistrikan.
Di sektor ketenagalistrikan yang memiliki tingkat risiko tinggi, kemampuan merespons insiden secara cepat dan tepat tidak hanya berperan melindungi keselamatan pekerja dan aset perusahaan, tetapi juga memastikan kontinuitas pasokan listrik kepada masyarakat.
Manager PLN UPT Durikosambi, Taufik Rossal Sukma, mengatakan penanganan pada menit-menit pertama saat terjadi kebakaran kerap menjadi penentu keberhasilan pengendalian insiden.
Oleh karena itu, setiap personel perlu memahami prosedur keselamatan dan mampu bertindak sesuai standar yang telah ditetapkan.
"Menit-menit pertama saat terjadi kebakaran sangat menentukan keberhasilan penanganan insiden. Respons yang cepat dan tepat dapat meminimalkan risiko terhadap keselamatan pekerja, melindungi aset perusahaan, serta memastikan layanan kelistrikan kepada masyarakat tetap berjalan andal," kata Taufik di sela pelatihan dan simulasi pemadam kebakaran yang diikuti pegawai dan tenaga alih daya, Jumat (26/6/2026).
Menurut Taufik, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi berbagai situasi darurat di lingkungan kerja.
Peserta memperoleh pembekalan mengenai potensi bahaya kebakaran, penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), prosedur tanggap darurat, hingga teknik evakuasi yang aman dan terkoordinasi.
Selain materi teori, peserta juga mengikuti simulasi lapangan untuk mengasah kemampuan menerapkan prosedur keselamatan saat menghadapi kondisi darurat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen PLN UPT Durikosambi dalam membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di seluruh lini operasional.
Baca juga: WNI Anggota Shobodan di Saga Dipuji Pimpinan Pemadam Kebakaran Sukarela Jepang
"Kesiapan personel dalam menghadapi kondisi darurat menjadi faktor penting untuk menjaga keandalan sistem transmisi dan memastikan pasokan listrik kepada masyarakat tetap terjaga," ujarnya.
Ia menambahkan, budaya K3 tidak hanya sebatas kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, tetapi juga membangun kesadaran setiap pekerja untuk mengenali potensi bahaya, melakukan langkah pencegahan, serta mengambil tindakan yang tepat ketika terjadi keadaan darurat.
"Melalui pelatihan seperti ini, kami ingin setiap personel memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi berbagai risiko di lapangan. Keselamatan kerja harus menjadi budaya yang diterapkan dalam setiap aktivitas operasional," tambahnya.
General Manager PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Barat (UIT JBB), Himmel Sihombing, mengatakan penerapan K3 secara konsisten menjadi salah satu fondasi dalam menjaga keandalan sistem ketenagalistrikan.
Menurutnya, keandalan pasokan listrik bergantung pada komitmen seluruh insan PLN mengutamakan aspek keselamatan dalam setiap pekerjaan.
Karena itu, pelatihan dan simulasi yang dilakukan secara berkala dinilai sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kompetensi personel, menekan risiko operasional, serta menjaga keandalan sistem transmisi dan kontinuitas layanan kelistrikan kepada masyarakat.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.