Laporan Wartawan TribunJatim.com, Isya Anshori

TRIBUNJATIM.COM, KEDIRI - Upaya menjaga warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui perlindungan benda bersejarah, tetapi juga dengan merawat tradisi yang menyertainya.

Semangat itulah yang kembali terlihat dalam pelaksanaan Merti Cagar Budaya berupa jamasan Arca Totok Kerot di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19, tradisi tahunan tersebut kini kembali digelar dan memasuki tahun kedua penyelenggaraannya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar menghidupkan kembali budaya pelestarian cagar budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Prosesi jamasan berlangsung pada Kamis (9/7/2026) pukul 16.00 WIB di kawasan Taman Totok Kerot, Jalan Totok Kerot, Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Puluhan pegiat budaya, juru pelihara cagar budaya, hingga masyarakat umum turut hadir mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Jamasan Arca Totok Kerot diinisiasi oleh komunitas juru pelihara (jupel) cagar budaya Kabupaten Kediri bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri.

Tradisi tersebut sengaja dilaksanakan pada bulan Suro yang dalam budaya Jawa dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan pensucian atau pembersihan simbolis terhadap benda-benda bersejarah.

Selain menjadi agenda pelestarian budaya, kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan masyarakat untuk memperkuat rasa memiliki terhadap peninggalan sejarah yang diwariskan para leluhur.

Baca juga: Jamasan Arca Totok Kerot di Kediri, Simbol Sopan Santun Hidup Bermasyarakat

Diawali Jaranan dan Kenduri Bersama

Sebelum prosesi jamasan dimulai, masyarakat disuguhi pertunjukan seni tari Jaranan yang menjadi bagian dari tradisi budaya lokal. Setelah itu, seluruh peserta mengikuti kenduri dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon kelancaran jalannya prosesi.

Usai doa dan makan bersama, petugas kembali memanjatkan doa sebelum memasuki prosesi pembersihan Arca Totok Kerot.

Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan (Jakala) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Eko Priatno Triwarso mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mengajak masyarakat semakin mengenal sejarah sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian cagar budaya.

"Jamasan ini merupakan inisiatif komunitas juru pelihara (jupel). Mereka ingin menghidupkan kembali tradisi pelestarian, khususnya di bulan Suro, agar nilai-nilai budaya tidak hilang," jelas Eko.

Legenda Totok Kerot Menjadi Pengingat Pentingnya Etika

Menurut Eko, Arca Totok Kerot tidak hanya memiliki nilai arkeologis sebagai benda cagar budaya, tetapi juga menyimpan legenda yang sarat pesan moral bagi kehidupan masyarakat.

Legenda Totok Kerot mengisahkan seorang putri dari Lodaya Selatan yang melamar Sri Aji Jayabaya. Namun, karena dinilai tidak memiliki sikap santun, sang putri dikutuk menjadi batu. Kisah tersebut hingga kini terus diwariskan sebagai pengingat pentingnya menjaga etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.

"Legenda Totok Kerot mengajarkan kita pentingnya sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat," kata Eko.

Lebih jauh, Eko menjelaskan secara arkeologis arca tersebut merupakan Dwarapala yang berwujud laki-laki. Namun, dalam perkembangan budaya masyarakat, sosok tersebut dikenal luas sebagai Totok Kerot dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus hidup hingga sekarang.

"Secara arkeologi namanya Dwarapala, itu laki-laki. Namun secara kebudayaan kita menghargai cerita yang berkembang karena menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat," jelasnya.

Air dari Tujuh Mata Air Mengandung Makna Simbolis

Prosesi jamasan tahun ini menggunakan air yang diambil dari tujuh sumber mata air berbeda, yakni Sumber Bendo, Sumber Tengger atau Kemanten Wonorejo, Menang Kendung, Sumberejo, dan Sendang Tirtokamandanu, serta dua sumber lainnya yang turut melengkapi jumlah tujuh mata air dalam prosesi tersebut.

Menurut Eko, angka tujuh dipilih karena melambangkan pitulungan atau pertolongan. Sementara bunga melati digunakan sebagai pewangi alami yang menjadi simbol kesucian selama prosesi berlangsung.

"Bunga melati hanya sebagai simbol wewangian. Tidak ada kaitannya dengan bunga tujuh rupa, karena fokus kegiatan ini adalah pensucian dan pelestarian cagar budaya," terangnya.

Eko menegaskan, Merti Cagar Budaya merupakan kegiatan milik masyarakat sehingga siapa pun diperbolehkan ikut terlibat dalam proses pembersihan Arca Totok Kerot.

Ia berharap keterlibatan masyarakat dapat memperkuat rasa memiliki terhadap warisan budaya yang ada di Kabupaten Kediri.

"Atas nama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, kami memberikan apresiasi kepada komunitas juru pelihara karena berhasil kembali menyelenggarakan kegiatan ini untuk kedua kalinya. Harapannya tradisi ini terus berlanjut sebagai upaya pelestarian bagi generasi mendatang," ungkapnya.

Peneliti Jepang Terkesan dengan Pelestarian Budaya Kediri

Pelaksanaan jamasan tahun ini juga menarik perhatian akademisi mancanegara. Salah satunya Saki Maeta (26), mahasiswi Jurusan Antropologi Universitas Kobe, Jepang, yang menyaksikan langsung prosesi tersebut.

Mahasiswi kandidat doktor itu mengaku terkesan melihat masyarakat Kediri mampu menjaga peninggalan sejarah yang tetap hidup berdampingan dengan tradisi masyarakat hingga saat ini.

"Saya merasa sangat senang bisa menyaksikan jamasan ini. Saya melihat masyarakat Kediri sangat menghargai dan menjaga peninggalan arca seperti ini," ungkapnya.

Selain menghadiri jamasan Arca Totok Kerot, Saki juga mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Kabupaten Kediri, seperti Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, serta Goa Selomangleng di Kecamatan Semen.

Menurutnya, kekayaan budaya yang masih terawat menjadi daya tarik tersendiri bagi peneliti maupun wisatawan mancanegara.

"Saya datang ke Kediri karena tertarik mempelajari budaya, terutama bagaimana masyarakat melestarikan peninggalan masa lalu," paparnya.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.