TRIBUNJATENG.COM, TEGAL - Telur asin yang gagal produksi biasanya dianggap sebagai kerugian.
Namun, di tangan tim dosen Universitas Harkat Negeri, telur asin gagal justru dikembangkan menjadi produk baru berupa salted egg crackers yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari program Hibah Diktisaintek Berdampak yang dilaksanakan pada Juni hingga Juli 2026.
Program pendampingan dilakukan di Universitas Harkat Negeri dan UMKM Eni Jaya Telur Asin, Kelurahan Limbangan Wetan, Brebes, dengan melibatkan enam pelaku UMKM yang bergerak di bidang telur asin dan makanan khas Brebes.
Program ini digagas oleh Dewi Kartika dan Puput Dewi Anggraeni dari Universitas Harkat Negeri bersama Adi Kuntoro dari Universitas Negeri Semarang.
Pendampingan dilakukan untuk membantu pelaku UMKM memanfaatkan telur asin gagal produksi agar tidak berakhir sebagai limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Dewi Kartika selaku Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat mengatakan, ide pengembangan salted egg crackers muncul setelah melihat produk crackers berbahan dasar telur yang dipasarkan di swalayan Singapura.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong tim untuk melihat peluang serupa dari potensi lokal yang dimiliki Brebes.
“Saya terinspirasi setelah melihat produk crackers berbahan dasar telur yang dipasarkan swalayan di Singapura. Dari sana kami melihat bahwa telur asin yang gagal produksi memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi cemilan bernilai ekonomi tinggi,” ujarnya.
“Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa inovasi tidak berhenti pada penciptaan produk baru, tetapi juga harus didukung dengan penguatan branding, desain kemasan, strategi pemasaran, dan pengelolaan keuangan. Harapannya, pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga dapat mengembangkan usaha yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan mereka,” tambah Dewi.
Pendampingan tidak berhenti pada proses produksi. Para pelaku UMKM juga mendapatkan pelatihan pencatatan keuangan dan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP).
Materi tersebut mencakup pencatatan keuangan sederhana, pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga, hingga cara menentukan harga jual yang sesuai.
Pada sesi pelatihan teknis, pelaku UMKM diajak mempraktikkan secara langsung pengolahan telur asin gagal menjadi salted egg crackers.
Narasumber pelatihan, Hans Hera Amalia, mengatakan produk gagal masih dapat dimanfaatkan apabila diolah dengan metode yang tepat.
“Telur asin gagal masih memiliki nilai ekonomi jika diolah menjadi salted egg crackers. Inovasi ini dapat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus membuka peluang usaha baru bagi UMKM Eni Jaya Telur Asin Kelurahan Limbangan Wetan Brebes,” ujar Hera.
Menurutnya, keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menghasilkan produk yang berkualitas sekaligus memiliki daya saing.
Selain produksi, aspek pengelolaan keuangan juga menjadi perhatian dalam program ini.
Narasumber pelatihan pencatatan keuangan dan HPP, Yeni Priatna Sari, menilai kemampuan mengelola keuangan menjadi salah satu dasar penting bagi keberlangsungan sebuah usaha.
“Pencatatan keuangan yang baik dan perhitungan HPP yang tepat menjadi dasar dalam menentukan harga jual dan menjaga keberlanjutan usaha,” ujar Yeni.
Ia berharap pelaku UMKM Eni Jaya Telur Asin semakin tertib dalam mengelola keuangan sehingga mampu mengambil keputusan usaha secara lebih tepat.
Tahap berikutnya adalah penguatan branding dan pemasaran digital. Pelaku UMKM mendapatkan pelatihan mengenai identitas merek, desain kemasan, pembuatan label, serta pemanfaatan media sosial untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Narasumber pelatihan digital marketing dan branding produk, Robby Hardian, mengatakan kemasan memiliki peran lebih luas daripada sekadar melindungi produk.
Kemasan juga menjadi bagian dari identitas yang dapat membantu sebuah produk lebih mudah dikenali konsumen.
“Kemasan bukan sekadar pembungkus produk, tetapi juga identitas merek yang dapat meningkatkan daya saing. Didukung strategi pemasaran digital yang tepat, produk UMKM Eni Jaya Telur Asin Kelurahan Limbangan Wetan Brebes berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Robby.
Melalui rangkaian pendampingan tersebut, pelaku UMKM didorong untuk mengubah cara pandang terhadap produk gagal.
Alih-alih melihatnya sebagai limbah atau kerugian, telur asin gagal dapat menjadi bahan baku untuk menciptakan produk baru dengan nilai tambah.
Transformasi tersebut sekaligus menjadi contoh pemanfaatan sumber daya lokal untuk menghasilkan inovasi pangan dan mengurangi potensi limbah.
Dengan dukungan keterampilan produksi, pengelolaan keuangan, branding, dan pemasaran digital, UMKM Brebes diharapkan semakin adaptif dan mampu mengembangkan produknya untuk menjangkau pasar yang lebih luas, baik nasional maupun global. (***)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.