SORE itu, cuaca tampak mendung menyelimuti awan alun-alun terbuka Balai Kota New Taipei (New Taipei City Hall) Distrik Banqiao, Kota Taipei, Taiwan. Kurang lebih 5.000 s.d. 7.000 orang berkumpul di arah depan panggung, yang dikelilingi gedung-gedung bertingkat.

Tepat pukul 15.10 waktu setempat (atau sama dengan Waktu Indonesia Tengah), Minggu (23/8/2026), Direktur Utama/CEO Grup Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi dan jajaran serta tetamu penting, baru saja meluncurkan (grand launching) aplikasi perbankan digital, BRI Mobile (BRImo) Taiwan.

Selepas sambutan-sambutan, peluncuran BRImo Taiwan dilakukan bersama-sama oleh Hery Gunardi, Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei Arif Sulistyo, Wali Kota New Taipei City Hou Yu-ih, Senior Executive Officer of Labor Bureau of NTC Lai Yan Heng, dan Head of Bureau of Labor Affairs New Taipei Mr Chen Rui Jia.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan BRImo Taiwan dihadirkan untuk membuat layanan perbankan bagi masyarakat Indonesia di Taiwan semakin mudah, cepat, dan aman.

"Kehadiran BRI di Taiwan bukan semata tentang membuka kantor atau menghadirkan layanan digital. Ini adalah tentang hadir lebih dekat dengan masyarakat Indonesia yang bekerja, berkarya, dan membangun masa depan di Taiwan," ujar Hery. Melalui aplikasi BRImo, pengguna lebih mudah transaksi perbankan, termasuk mengirim uang dari Taiwan ke Indonesia.

Ribuan hadirin yang umumnya pekerja migran Indonesia (PMI) dan diaspora, berduyun-duyun menghadiri acara Festival Budaya Indonesia, yang diisi antara lain hiburan yang menampilkan penyanyi tersohor Indonesia, Wika Salim dan grup band populer Sheila on 7. Wika Salim tampil di awal, membawakan lima sampai enam lagu, di antaranya “Keong Racun”, “Perawan atau Janda (Medley)”, dan “Bintang Kehidupan” karya mendiang Nike Ardilla.

SEMAN  SEPERJUANGAN  - Direktur Utama BRI Hery Gunardi memeprtemukan Yuni Lestari (34 tahun dan  Suyati (54), ibunya, melalui  program Tali Kasih Teman Seperjuangan BRI. Yuni sudah delapan tahun pergi ke Taiwan sebagai pekerja migran Indonesia (PMI).
SEMAN SEPERJUANGAN - Direktur Utama BRI Hery Gunardi memeprtemukan Yuni Lestari (34 tahun dan Suyati (54), ibunya, melalui program Tali Kasih Teman Seperjuangan BRI. Yuni sudah delapan tahun pergi ke Taiwan sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). (Tribunnews.com)

Sebelum hiburan beralih kepada Duta, Eros dan kawan-kawannya kru Sheila on 7 tampil menyanyikan 13 lagu, pembawa acara (MC) mengundang Hery Gunardi maju ke panggung. Lalu, menginformasikan akan bergabung seorang perempuan, pekerja migran Indonesia (PMI).

Hery yang mengenakan kaus polo putih lengan pendek dan celana panjang cokelat, bertanya-tanya kepada perempuan bertubuh kurus, mengenakan kemeja warna biru langit, dan bawahan hitam. Mereka berdua sama-sama mengenakan kacamata.

“Namanya siapa, sudah berapa tahun jadi PMI dan apa harapannya sebagai PMI,” tanya Hery, Dirut BRI yang menjabat sejak Maret 2025.

“Nama saya Yuni Lestari, PMI sudah delapan tahun di Taiwan belum pernah pulang. Sangat rindu pulang, anak, dan ibu,” sahut perempuan itu. Yuni Lestari. Perempaun 34 tahun.

Pekerja Migran Indonesia (PMI) adalah setiap warga negara Indonesia yang akan, sedang, atau telah melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia. Dulu, istilahnya tenaga kerja Indonesia (TKI) atau tenaga kerja wanita (TKW). Syarat Utama Menjadi PMI meliputi usia minimal 18 tahun, memiliki kompetensi atau keahlian kerja, sehat jasmani dan Rohani. Juga wajib terdaftar dan memiliki nomor kepesertaan jaminan social. Untuk bisa berangkat bekerja secara resmi dan legal (prosedural) ke luar negeri, dokumen yang harus dipenuhi antara lain paspor dan visa kerja. Upah resmi PMI formal di Taiwan berkisar Rp 16,4 juta/bulan.

 

Menahan Rindu Bertemu Keluarga 

Hery yang juga pernah menjabat Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sejak 15 Desember 2020 hingga Maret 2025, coba memancing lebih dalam emosi dan perasaan kangen Yuni kepada keluarganya. “Apakah rindu keluarga. Apakah ingin pulang?” kata Hery.

Yuni tampak tak mampu menyembunyikan perasaan sedihnya. “Saya ingin bisa pulang, dan sehat selalu,” kata Yuni. Garis wajahnya berkerut, matanya terpejam disusul oleh isakan suara tangis. Ia mengepalkan tangan ke arah ribuan orang di hadapannya.

Pembawa acara kemudian menginformasikan, tim BRI dari kantor pusat Jakarta telah mendatangi rumah keluarga Yuni di Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah untuk keperluan syuting video ibunda, adik-adik, dan anak Yuni. “Kita putar videonya ya. Semoga bisa melepas rindu,” ujar Hery.

Diputarlah video. Seorang ibu mengenakan kemeja batik motif padi kapas warna cokelat kombinasi putih, dan celana panjang abu-abu tua. Syal menggantung di lehernya. Ia duduk di kursi kayu panjang, latar belakang rumah tembok batu bata. Di samping kiri video tertulis nama Yati, ibu dari Yuni, pekerja migran Indonesia.

“Anak saya, namanya Yuni Lestari yang bekerja sebagai PMI di Taiwan, sejak 2018 sampai sekarang sudah 8 tahun. Dia punya anak. Saat dia pergi, anaknya masih kecil, berusia dua tahun. Sekarang sudah kelas 4 SD,” kata Yati, nenek berperawakan kurus, sembari mengusap air mata yang meleleh di pipinya.

Melihat wajah ibunya sedih dan mengusap pipi melalui layar lebar, tangis Yuni semakin tak terbendung. Tangan kanannya memegangi corong pelantang (mikrofon), dan punggung tangan kirinya menyeka air mata. Seorang perempuan dari belakangnya, sampai-sampai membawakan tisu.

Video itu memperlihatkan pula kesaksian perempuan yang diberi keterangan Irma, adik perempuan Yuni, juga menangis. “Kasihan, melewatkan masa-masa bersama anak pertama, gitu.” Diputar penampakan seorang bocah lelaki, Arka, putranya Yuni. “Kalau ibu sampai di sini, saya ingin keluar dan ajak jalan-jalan,” pinta Arka. Keinginan Yoga, adik lelaki Yuni pun sama mirisnya. Kamera menangkap air mata meleleh di sudut pelipis kiri. “Saya berharap Mbak Yuni pulang. Kita bisa kumpul bareng. Saya kadang mikir, dan kita buka usaha. Mungkin jualan bareng, agar tidak perlu pergi jauh-jauh,” ucap Yoga.

Adegan selanjutnya Yati, menunjukkan sehelai baju merah terlihat. Menurutnya, ketika dia kangen, Yati memegangi kemeja kesukaan Yuni, ketika masih berada di Pati. Air mata Yati kembali meluap. Dia mengingat pula kebaikan Yuni, yang rutin mentransfer uang via bank BRI sebagai biaya hidup Yati dan Arka, putra Yuni. Ia mengaku Yuni juga membantu biaya kuliah dua adiknya; Irma dan Yoga.

Yuni asal Desa Ngablak, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, yang sudah delapan tahun bekerja di Taiwan. Orang tua dan anak Yuni tinggal di Cluwak, yang berada di area lereng Gunung Muria dan berjarak sekitar satu jam atau 39 kilometer di sebelah utara pusat Kota Pati.

Yuni mengaku sangat terbantu oleh kehadiran kantor BRI di Taipei, juga adanya aplikasi BRImo. Ia sudah dua tahun menjadi pengguna BRImo. Sebelumnya, untuk urusan mengirim uang, ia menggunakan jasa perusahaan remitansi, yaitu melakukan transfer uang tanpa menjadi nasabah bank.

“Setelah adanya BRImo, saya sangat terbantu. Kapan saja mau kirim uang ke ibu, bisa dan aman. Dulu kalau mau ngirim uang, harus bawa uang tunai. Sekali waktu, saya pas bawa uang di tangan, saat menghitung, lembaran uangnya terbang ditiup angin. Selain itu, membawa uang tunai juga rawan hilang atau menjadi korban kriminal,” ujar Yuni, ibu satu anak berusia 10 tahun, saat ditemui Tribunnews.com di belakang panggung Festival Budaya Indonesia di Taipei, Minggu.

Tangis Berganti  Bahagia

Usai menyaksikan tontonan akan ibu, dua adik, dan Arka sang putra, Yuni terlihat sedikit tenang. Tidak lagi mengusap air mata yang meleleh di wajah. Video berakhir.

Hery dan Yuni mendekat, di tengah panggung. Hery bertanya, “Bagaimana setelah melihat video ini?” “Sedikit lega perasaan. Tidak menyangka bahwa timnya bapak mengambil video ke rumah kami. Saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur, bapak Hery Gunardi  dan tim BRI sudah mau repot. Saya sangat tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan ibu saya. Terima kasih BRI dan Pak Hery Gunardi,” ucap Yuni sambil berkaca kaca.

Bukan itu saja. Hery lanjut seolah berandai-andai. “Kita kan nggak tahu ya. Tuhan kan mahabaik, Tuhan mahapemurah. Kalau seandainya sekarang ini, detik ini, ibunya Mbak Yuni ada di sini, apa yang akan Anda rasakan?” Sorak sorai dan tepuk tangan para pekerja migran pun bergemuruh. Wawwww….

Beberapa detik berikutnya, sosok Suyati (54 tahun) muncul dari belakang Yuni, di samping kiri panggung. Yuni menutupi wajah pakai tisu, lalu terduduk. Ibunya mendekap, lalu ibu dan putrinya yang terpisah jarak dan waktu selama 8 tahun, akhirnya berjumpa. Mereka berpelukan.

Suasana di panggung dan para penonton pertunjukan seni, tampak hening. Tidak gaduh. Bahkan banyak yang juga terlihat sedih, meneteskan air mata. “Sebagai seorang ibu, saya sedih melihat dia meninggalkan anak, pergi kerja PMI bertahun-tahun tak pulang,” kata Euis, PMI asal Indramayu, Jawa Barat.

Lalu, si pembawa acara seolah membuat tantangan. “Pak, boleh nggak saya membuat satu request pribadi. Satu aja Pak permintaan saya,” katanya kepada Hery.

Hery Gunardi, lelaki kelahiran Bengkulu 26 Juni 1962, dan peraih gelar Doktor Manajemen Bisnis dari Universitas Padjadjaran (2021) sempat tampak menahan diri sekitar 5 detik. Ia berpikir, lalu menjawab, “Boleh.” Ia meminta pihak BRI menyediakan tiket pulang ke Indonesia bagi Yuni. “Ya, boleh. BRI akan sediakan tiket,” ujar Hery, disambut sukacita Yuni.

Group Head Corporate Secretary (Corsec) BRI Dhanny, kerinduan Yuni Lestari (34) terhadap keluarga setelah hampir satu dekade bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan akhirnya terobati. 

Dalam rangkaian Festival Budaya di New Taipei City, Taiwan, yang digelar pada Minggu (23/8), Direktur Utama BRI Hery Gunardi memberikan langsung kejutan istimewa dengan mempertemukan Yuni bersama ibu, Suyati (54). Ibunya datang langsung dari Pati, Jawa Tengah, melalui  program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI”. 

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI” merupakan bagian dari upaya BRI membangun kedekatan dengan komunitas PMI. Menurutnya, besarnya kontribusi PMI bagi keluarga di Tanah Air perlu diiringi dengan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka selama bekerja di luar negeri.

“Bagi BRI, PMI merupakan teman seperjuangan yang bekerja keras untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarga di Tanah Air. Oleh karena itu, kami ingin kehadiran BRI dapat dirasakan lebih dekat, bukan hanya melalui layanan finansial, tetapi juga melalui perhatian terhadap perjalanan dan kebutuhan mereka,” ucapnya. 

Program Tali Kasih “Teman Seperjuangan BRI” menjadi bagian dari komitmen BRI untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan PMI, tidak hanya saat mereka bekerja dan mengirimkan remitansi ke Indonesia, tetapi sepanjang perjalanan mereka dalam mempersiapkan masa depan. 

Ide mendatangkan Yati dari Pati ke Taiwan adalah keputusan dari Direktur Utama BRI, Hery Gunardi. Awalnya, proses mencari TKI/PMI yang memiliki kisah perjuangan bagai pahlawan devisa bagi bangsa dan keluarganya. Dari beberapa kandidat, terpilihlah Yuni, yang merupakan nasabah BRI Kantor Cabang Taipei. Dia juga aktif melakukan kegiatan bersama komunitas PMI di Taiwan.

Kemudian, tim dari kantor BRI Cabang Taipei mendatangi tempat Yuni bekerja di Taipei untuk proses konfirmasi dan sekaligus pengambilan video testimoni.

Di Jakarta, tim dari kantor pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk, mulai memproses pengambilan video dokumentasi keluarga Yati di Pati. Kunjungan dilakukan 15 Agustus 2026. Dua hari kemudian, Yati diundang bertolak ke Jakarta untuk proses mengurus paspor dan visa ke Taiwan.

Usai Yuni dan Yati, ibunya, dipertemukan di atas panggung, acara hiburan diisi Sheila on 7. Pada saat itu, Tribunnews.com mengajak diskusi Yuni dan ibunya, di koridor di dalam gedung New Taipei City Hall.

Mengenai penggunaan tiket penerbengan Yuni kembali ke Indonesia, akan berlaku longgar. Tidak cepat kadaluarsa. Prinsipnya memberi kelonggaran waktu Yuni mengurus izin cuti dari tempat bekerja. 

Penuturan Yuni, sejak lulus SMA, dia sudah niat bekerja di luar negeri dengan maksud membantu memperbaiki keuangan keluarga. Namun Yati, ibunya, melarang dengan alasan agar anaknya melanjutkan pendidikan ke bangku perguruan tinggi. Saat kuliah, dia terjalin ikatan asmara dengan seseorang pria. Harapan awalnya, perkawinan akan memperbaiki situasi, rupanya berkebalikan. Dua tahun setelah melahirkan, dia mantap pergi ke luar negeri.

Di Taiwan, Yuni bekerja merawat orang tua, lansia. Sekali waktu, awal-awal bekerja, karena tidak betah pada keluarga yang dirawat, Yuni pindah majikan. Namun tindakan itu dianggap melanggar kesepakatan, sehingga ia tidak mendapat upah dalam sebulan. Kini, Yuni bekerja pada majikan, dan upahnya cukup untuk hidup dan sisanya dikirim kepada ibu. “Saya pernah kirim 10 juta, karena dapat bonus,” ujar Yuni.

Suyati, ibunya mengaku, memang keluarga hidup prihatin sejak dulu. “Saya memang ajak anak-anak hidup susah,” kata Yati, sapaannya.

Semasa kelas 5 SD, Yuni pernah kehilangan kasih sayang ayah. Ketika itu, ayahnya merantau sebagai pekerja tambang di Kalimantan. Karena ayah tak pulang-pulang, Yuni ikut tetangga di Pati, yang bekerja bareng sang ayah, ikut bertolak ke Kalimantan menemui ayahnya. ”Ayahnya di Kalimantan, dulu. Dia selalu merindukan bapaknya, karena bapaknya nggak pulang-pulang. Dia sampai nyusul. Waktu dia kelas lima SD, dia nyusul sendiri ke Kalimantan, ikut tetangga,” kata Yati sembari menghapus air mata dengan tisu. (amb)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.