TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Hampir tiga bulan tak diguyur hujan, sawah milik Murnah (75), warga Kampung Cipasung, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, Banten, kini mengering.
Tanaman padi yang sebelumnya diharapkan bisa dipanen justru gagal tumbuh akibat kemarau panjang.
Bukan hanya kehilangan hasil panen, Murnah juga kehilangan pekerjaan sebagai buruh tani atau gacong.
Di usianya yang sudah 75 tahun, perempuan lanjut usia tersebut kini harus menghadapi sulitnya memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Kondisi Murnah kemudian diketahui personel Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lebak, Polda Banten, melalui media sosial.
Pada Sabtu (29/8/2026) sore, sejumlah personel Satlantas Polres Lebak mendatangi rumah Murnah.
Polisi membawa bantuan berupa 25 kilogram beras, kasur lipat, serta sejumlah kebutuhan rumah tangga.
Kanit Gakkum Satlantas Polres Lebak Ipda Aris Setiawan mengatakan, bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian polisi terhadap keluarga Murnah yang terdampak kemarau.
"Kami dari Satuan Lalu Lintas Polres Lebak ingin berbagi kepada Ibu. Di rumah ini ada lima orang, dua di antaranya mengalami kebutaan. Kami selaku Polri ingin berbagi dan membantu," kata Aris saat menyerahkan bantuan.
Baca juga: Jalan Alternatif Menuju Baduy di Lebak Rusak, Wisatawan Keluhkan Akses hingga Minim Penerangan
Menurut Aris, pihaknya mengetahui kondisi Murnah setelah melihat informasi mengenai kehidupan keluarga tersebut yang beredar di media sosial.
Polisi kemudian berinisiatif mendatangi langsung rumah Murnah untuk melihat kondisinya sekaligus memberikan bantuan.
"Alhamdulillah kami melihat dari media sosial dan kami sangat terharu melihat keluarga emak ini. Jadi, kami ingin berbagi," ujarnya.
Aris berharap bantuan tersebut dapat sedikit meringankan beban Murnah dan keluarganya selama menghadapi musim kemarau.
"Harapannya mudah-mudahan emak bersama keluarga sehat dan bantuan kami ini bisa bermanfaat," katanya.
Sementara itu, Murnah mengaku kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan membuat kehidupannya semakin sulit.
"Sudah hampir tiga bulan kering. Tidak ada hujan," kata Murnah.
Murnah hanya memiliki satu petak sawah dengan luas relatif kecil.
Dalam kondisi normal, sawah tersebut mampu menghasilkan sekitar empat karung gabah dalam sekali panen.
Hasil tersebut memang tidak banyak. Namun, bagi Murnah, gabah dari sawah itu sangat berarti untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarganya.
Kini, kondisi sawah tersebut jauh berbeda.
Tanahnya mengeras dan retak. Tanaman padi yang seharusnya menghijau justru mengering dengan batang berwarna kemerah-merahan.
"Bareureum (batang padinya kemerah-merahan), kering karena kemarau. Sudah parah," tuturnya.
Gagal panen membuat Murnah harus membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari.
Di sisi lain, pekerjaan sebagai buruh tani juga ikut terhenti karena sawah warga di sekitar tempat tinggalnya turut terdampak kekeringan.
Dalam kondisi normal, Murnah masih bekerja sebagai buruh tani meski usianya sudah 75 tahun.
Ia biasa membantu warga saat musim tanam maupun panen untuk mendapatkan upah.
Namun, kemarau membuat pekerjaan tersebut menghilang.
"Sekarang tidak ada pekerjaan karena kemarau. Kalau enggak kemarau mah ada saja kerjaan, bisa ikut ngegebot di sawah tetangga, tapi ini mah enggak ada," katanya.
Tidak adanya pekerjaan membuat Murnah kehilangan pemasukan.
Padahal, kebutuhan pangan keluarganya tetap harus dipenuhi setiap hari.
Murnah mengatakan keluarganya membutuhkan sekitar tiga liter beras setiap hari.
Harga beras yang biasa dibelinya berkisar Rp12.000 hingga Rp12.500 per liter. Sementara beras dengan kualitas lebih baik bisa mencapai sekitar Rp13.000 per liter.
Artinya, sedikitnya Rp36.000 hingga Rp39.000 harus dikeluarkan setiap hari hanya untuk membeli beras.
Belum termasuk kebutuhan lauk-pauk dan bahan makanan lainnya yang rata-rata mencapai sekitar Rp20.000 per hari.
"Kalau sedang tidak punya uang, dari tetangga sama saudara yang ngasih," kata Murnah.
Di rumah tersebut terdapat lima orang anggota keluarga.
Salah seorang anak Murnah yang telah berkeluarga mengalami kebutaan sehingga kini tidak lagi dapat bekerja dan membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Di rumah ada lima keluarga termasuk saya. Anak saya yang sudah berkeluarga sudah tidak bisa melihat karena matanya kena kebutaan. Kalau dahulu mah dia yang ngasih uang buat makan saya sama keluarga, tapi sekarang mah sudah enggak," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat Murnah semakin bergantung pada bantuan saudara dan tetangga ketika tidak memiliki uang.
Murnah pun mengaku bersyukur atas bantuan yang diterimanya.
"Alhamdulillah ya rabbal alamin saya bersyukur, terima kasih banyak Pak Polisi," pungkasnya.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.