TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Denny Sumargo melabuhkan agenda penutup rangkaian roadshow film Baby Udon di Pulau Dewata.
Bertempat di Cinema XXI Level 21 Mall, Denpasar, Bali, pada Minggu 30 Agustus 2026.
Sang produser sekaligus pemeran utama film ini membagikan kisah haru serta pertaruhan besar di balik layar penggarapan film yang diangkat dari kisah nyata viral Fanny Kondoh tersebut.
Mengawali perbincangan dengan salam hangat khas Bali, "Om Swastiastu, Rahayu," pria yang akrab disapa Densu ini menegaskan keputusannya memilih Bali sebagai kota penutup bukan sekadar strategi memperkenalkan film biasa, melainkan demi menyerap aura spiritual dan vibrasi positif daerah ini.
"Bali adalah tempat yang punya energi luar biasa, ini Pulau Dewata. Saya berharap energi ini membawa film Baby Udon melangkah kuat saat tayang serentak 3 September nanti," ujar Densu saat dijumpai Tribun Bali.
Baca juga: VIDEO Lansia di Nusa Penida Klungkung Bali Tidak Pulang Tiga Hari, Mengaku ke Pasar Beli Obat
Di balik layar, proses produksi film ini sempat mengalami kebuntuan hingga nyaris dibatalkan.
Densu mengaku terpaksa turun gunung memerankan karakter almarhum Hajime karena keterbatasan jadwal aktor lain serta tanggung jawab moral terhadap kelangsungan hidup para kru yang telah bersiap selama berbulan-bulan.
"Film ini sempat berhenti enam bulan dan hampir batal. Mengambil peran ini adalah perjudian saya sebagai produser, karena saya tidak ingin mengorbankan kru yang harus menghidupi keluarganya," ungkapnya.
Untuk mendalami sosok mendiang suami Fanny yang berasal dari Jepang, Densu menghabiskan waktu berbulan-bulan melatih aksen serta bahasa bersama sahabat asli mendiang yang turut dilibatkan dalam film.
Baginya, esensi utama karakter ini terletak pada keikhlasan seorang pria dalam mendampingi pasangannya menghadapi cobaan berat kanker hingga akhir hayat.
"Ketulusan Hajime luar biasa. Sebelum berpulang, ia mendoakan agar istrinya tetap bahagia. Ini nilai yang sangat langka dan bisa menjadi cermin bagi para pria tentang arti kehadiran yang tulus," tuturnya.
Sosok pemilik kisah nyata, Fanny Kondoh, mengungkapkan rasa leganya menyerahkan cerita hidupnya ke tangan Densu dan tim produksi.
Ia menilai penggarapan film ini sarat rasa hormat dan empati, bukan semata eksploitasi materi viral.
"Koh Densu memperlakukan cerita ini dengan hati. Ia melibatkan saya dari penulisan naskah hingga promosi. Film ini sangat berarti agar kelak anak saya, Kazuki, bisa melihat sosok ayahnya," tutur Fanny.
Kekuatan narasi emosional film ini bahkan diakui langsung oleh pemeran utama wanita, Caitlin Halderman.
Meski terlibat dalam seluruh proses produksi, Caitlin mengaku tetap larut dalam kesedihan saat pertama kali menyaksikan hasil akhirnya di layar lebar.
"Dari momen karakter suaminya divonis sakit sampai akhirnya memiliki anak, air mata saya tidak berhenti menetes. Ceritanya benar-benar menyentuh," pungkas Caitlin.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.