TRIBUNNEWS.COM - Apa yang membuat seseorang dapat dikatakan memiliki kehidupan yang baik? Jawabannya ternyata tidak hanya berkaitan dengan kebahagiaan atau kondisi finansial.
Dalam konsep human flourishing, kehidupan yang baik dilihat secara menyeluruh melalui berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari kebahagiaan dan kesehatan hingga makna hidup, karakter, hubungan sosial, serta stabilitas finansial dan material.
Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa seseorang dapat memiliki penghasilan tinggi atau karier yang sukses, tetapi belum tentu memiliki kehidupan yang berkembang secara utuh.
Lantas, apa sebenarnya human flourishing dan apa saja dimensinya?
Apa Itu Human Flourishing?
Human flourishing merupakan kondisi ketika berbagai aspek penting dalam kehidupan seseorang berada dalam keadaan baik sehingga memungkinkan dirinya menjalani kehidupan yang bermakna dan terus berkembang.
Dikutip dari Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA), Global Flourishing Study (GFS) mendefinisikan human flourishing sebagai kondisi ketika seluruh aspek kehidupan seseorang berada dalam keadaan paripurna.
Perspektif tersebut membuat human flourishing memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar mengukur apakah seseorang bahagia atau memiliki keberhasilan material.
Dengan kata lain, human flourishing melihat kualitas kehidupan manusia secara utuh, termasuk kondisi kesehatan, tujuan hidup, karakter, hubungan dengan orang lain, serta kondisi finansial.
Baca juga: Apa Itu Human Flourishing? Memahami Kesejahteraan Manusia secara Lebih Utuh
Apa Saja 6 Dimensi Human Flourishing?
Konsep human flourishing mencakup enam dimensi utama, yaitu:
- Happiness and life satisfaction atau kebahagiaan dan kepuasan hidup.
- Mental and physical health atau kesehatan mental dan fisik.
- Meaning and purpose atau makna dan tujuan hidup.
- Character and virtue atau karakter dan kebajikan.
- Close social relationships atau hubungan sosial yang dekat.
- Financial and material stability atau stabilitas finansial dan material.
Keenam dimensi tersebut menunjukkan bahwa kehidupan yang berkembang tidak ditentukan oleh satu faktor saja.
-
Happiness and Life Satisfaction: Kebahagiaan dan Kepuasan Hidup
Kebahagiaan merupakan salah satu bagian penting dalam human flourishing. Namun, bahagia tidak berarti seseorang harus selalu merasa senang setiap saat.
Dimensi happiness and life satisfaction melihat bagaimana seseorang menilai kehidupannya secara keseluruhan dan seberapa puas ia terhadap kehidupan yang dijalani.
Misalnya, seseorang mungkin tidak memiliki pekerjaan dengan gaji tertinggi, tetapi merasa puas karena pekerjaannya sesuai dengan minat, memiliki lingkungan kerja yang nyaman, dan tetap mempunyai waktu untuk keluarga.
Sebaliknya, pencapaian karier yang tinggi belum tentu membuat seseorang merasa puas apabila kehidupannya dipenuhi tekanan.
Artinya, kebahagiaan dalam konteks human flourishing berkaitan dengan kepuasan terhadap kehidupan secara keseluruhan, bukan sekadar perasaan senang dalam satu waktu.
-
Mental and Physical Health: Kesehatan Mental dan Fisik
Dimensi kedua adalah mental and physical health atau kesehatan mental dan fisik. Kondisi tubuh dan pikiran menjadi bagian penting karena keduanya memengaruhi kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
Seseorang dapat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang baik, tetapi jika terus mengalami kelelahan secara fisik maupun mental, kualitas kehidupannya tetap dapat terdampak.
Sebaliknya, waktu istirahat yang cukup, aktivitas fisik, kondisi tubuh yang baik, serta perhatian terhadap kesehatan mental dapat membantu seseorang menjalani kehidupannya secara lebih optimal.
Dalam konsep human flourishing, kesehatan bukan sekadar kondisi pendukung, tetapi merupakan salah satu dimensi utama kehidupan yang berkembang.
-
Meaning and Purpose: Makna dan Tujuan Hidup
Dimensi meaning and purpose berkaitan dengan apakah seseorang memahami tujuan hidupnya dan merasa bahwa apa yang dilakukan memiliki nilai. Makna hidup tidak selalu harus diwujudkan melalui pencapaian besar.
Seorang pekerja mungkin merasa lelah dengan rutinitasnya, tetapi tetap menganggap pekerjaannya bermakna karena penghasilan yang diperoleh digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Hal serupa dapat dirasakan seorang guru ketika melihat muridnya berkembang setelah mendapatkan pembelajaran.
Makna juga dapat ditemukan melalui aktivitas seperti belajar, berkarya, membantu orang lain, membangun keluarga, atau melakukan sesuatu yang dianggap penting. Karena itu, human flourishing tidak hanya mempertanyakan apa yang dimiliki seseorang, tetapi juga apakah ia mengetahui alasan dan tujuan di balik kehidupannya.
-
Character and Virtue: Karakter dan Kebajikan
Character and virtue merupakan dimensi yang berkaitan dengan nilai dan karakter yang dipegang seseorang dalam menentukan tindakan.
Salah satu contohnya adalah ketika seseorang mendapatkan kesempatan memperoleh keuntungan pribadi melalui cara yang tidak jujur, tetapi memilih untuk tidak melakukannya karena menganggap kejujuran lebih penting.
Contoh lainnya adalah kemampuan menunda kesenangan saat ini demi tujuan yang dianggap lebih baik pada masa depan, seperti menyisihkan penghasilan untuk kebutuhan masa depan.
Dengan demikian, human flourishing bukan hanya tentang merasa baik, tetapi juga tentang berusaha melakukan hal yang dianggap baik.
-
Close Social Relationships: Hubungan Sosial yang Dekat
Manusia juga membutuhkan hubungan sosial yang bermakna. Dimensi close social relationships melihat kualitas hubungan yang dimiliki seseorang serta sejauh mana hubungan tersebut memberikan kedekatan dan dukungan.
Jumlah teman atau pengikut di media sosial tidak selalu menunjukkan kualitas hubungan sosial seseorang. Seseorang dengan lingkaran pertemanan yang kecil justru dapat merasa memiliki kehidupan yang lebih baik apabila mempunyai orang-orang yang dekat, saling mendukung, dan dapat dipercaya.
Hubungan tersebut juga membutuhkan perhatian dan pemeliharaan, misalnya dengan meluangkan waktu bersama keluarga, bertemu teman, atau sekadar menanyakan kabar.
Dalam perspektif human flourishing, hubungan sosial yang dekat menjadi salah satu unsur penting yang membantu manusia menjalani kehidupan secara lebih utuh.
-
Financial and Material Stability: Stabilitas Finansial dan Material
Dimensi terakhir adalah financial and material stability. Aspek ini berkaitan dengan kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan hidup sekaligus memiliki rasa aman terhadap kondisi finansialnya. Stabilitas finansial tidak selalu berarti memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, atau tabungan dalam jumlah besar.
Yang menjadi perhatian adalah apakah seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, tempat tinggal, dan pengeluaran sehari-hari tanpa terus-menerus mengalami kekhawatiran finansial.
Karena itu, penghasilan tinggi belum tentu secara otomatis menunjukkan stabilitas finansial apabila pengeluaran juga terus meningkat.
Kondisi material memang penting dalam kehidupan yang baik, tetapi dalam konsep human flourishing, aspek tersebut tetap berjalan berdampingan dengan lima dimensi lainnya.
Baca juga: Apa Bedanya Happiness, Well-Being, dan Flourishing? Ini Penjelasannya
Apa Perbedaan Human Flourishing dengan Kebahagiaan?
Perbedaan utamanya terletak pada cakupan. Kebahagiaan atau happiness lebih berkaitan dengan pengalaman dan penilaian seseorang terhadap kebahagiaan serta kepuasan hidupnya.
Sementara itu, human flourishing melihat kehidupan secara lebih menyeluruh dengan mempertimbangkan enam dimensi, yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang dekat, serta stabilitas finansial dan material.
Artinya, seseorang tidak harus selalu merasa bahagia untuk dapat memiliki kehidupan yang berkembang. Yang dilihat adalah bagaimana berbagai aspek kehidupannya berjalan dan saling mendukung.
Apakah Human Flourishing Hanya Berkaitan dengan Kondisi Finansial?
Tidak.
Kondisi finansial merupakan salah satu dari enam dimensi human flourishing, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Memiliki kondisi ekonomi yang stabil dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar dan mendapatkan rasa aman. Namun, kehidupan yang berkembang juga membutuhkan kesehatan, hubungan sosial, tujuan hidup, kepuasan hidup, serta karakter dan kebajikan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa materi merupakan bagian dari kehidupan yang baik, bukan keseluruhan definisinya.
Mengapa Human Flourishing Penting Dibahas?
Konsep human flourishing memperluas cara melihat kualitas kehidupan manusia.
Jika keberhasilan hanya diukur melalui pendapatan, jabatan, atau pencapaian material, terdapat berbagai aspek kehidupan lain yang berpotensi terabaikan.
Sebaliknya, pendekatan human flourishing melihat manusia sebagai individu yang memiliki kebutuhan fisik, psikologis, sosial, moral, dan material yang saling berkaitan.
Karena itu, pembahasan mengenai human flourishing juga relevan tidak hanya bagi individu, tetapi dalam konteks yang lebih luas seperti keluarga, komunitas, dunia usaha, teknologi, dan kebijakan publik.
Human Flourishing dan Global Ethics Forum 2026
Pembahasan mengenai human flourishing menjadi bagian dari rangkaian Global Ethics Forum (GEF) 2026 yang mengangkat tema “Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology, and Policy”.
Forum tersebut membawa pembahasan mengenai hubungan antara tata kelola yang bertanggung jawab, bisnis, teknologi, kebijakan, dan upaya menciptakan kondisi yang memungkinkan manusia berkembang.