TRIBUNLOMBOK.COM — Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau merambat hingga rute penerbangan yang menghubungkan Jakarta dengan Lombok, Minggu (6/9/2026).
Secara keseluruhan, total 17 jadwal penerbangan pada rute Jakarta-Lombok pergi-pulang tercatat mengalami gangguan hingga pukul 13.00 WITA, baik dalam bentuk pembatalan, penundaan, maupun perubahan jadwal.
Berdasarkan pembaruan data dari Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (LOP), hingga pukul 13.00 WITA pada Minggu (6/9/2026), tercatat sebanyak 1.904 penumpang terdampak gangguan jadwal penerbangan.
Dari jumlah tersebut, dampak paling besar dialami penumpang keberangkatan dari Lombok menuju Jakarta (LOP–CGK) dengan estimasi 1.214 penumpang terdampak.
Sementara penumpang kedatangan dari Jakarta menuju Lombok (CGK–LOP) tercatat sebanyak 690 penumpang terdampak.
Baca juga: Bandara Soetta Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Penerbangan Jakarta-Lombok Dibatalkan
Pada rute keberangkatan dari Lombok menuju Jakarta, tercatat sembilan penerbangan mengalami pembatalan.
Penerbangan tersebut meliputi Super Air Jet IU769 pukul 06.15 WITA, TransNusa 8B5162 pukul 08.30 WITA, Super Air Jet IU763 pukul 10.40 WITA, Garuda Indonesia GA431 pukul 11.15 WITA, Citilink QG641 pukul 12.30 WITA, Batik Air ID6657 pukul 14.40 WITA, Garuda Indonesia GA433 pukul 14.45 WITA, Pelita Air IP143 pukul 16.15 WITA, dan Super Air Jet IU767 pukul 17.10 WITA.
Delapan Penerbangan Kedatangan dari Jakarta Turut Terganggu
Sementara itu, pada rute kedatangan dari Jakarta menuju Lombok, delapan penerbangan dibatalkan.
Penerbangan tersebut adalah TransNusa 8B5161 pukul 08.00 WITA, Super Air Jet IU762 pukul 10.00 WITA, Garuda Indonesia GA432 pukul 10.30 WITA, Citilink QG640 pukul 12.00 WITA, Batik Air ID6656 pukul 14.00 WITA, Garuda Indonesia GA430 pukul 14.00 WITA, Pelita Air IP142 pukul 15.30 WITA, serta Super Air Jet IU764 pukul 16.30 WITA.
Gangguan pada rute Jakarta-Lombok ini merupakan dampak lanjutan dari meluasnya sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.
Berdasarkan informasi resmi BMKG, sebaran abu vulkanik teridentifikasi dalam dua klaster utama berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, informasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin.
Klaster pertama bergerak pada ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.
Klaster kedua bergerak pada ketinggian yang jauh lebih tinggi, yakni hingga 50.000 kaki, ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan, meluas hingga Selat Sunda bagian selatan dan Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Sebaran abu pada pukul 10.10 WIB tercatat bergerak ke arah barat dengan kecepatan 10 knots pada ketinggian hingga 20.000 kaki, dan ke arah barat daya dengan kecepatan 20 knots pada ketinggian hingga 50.000 kaki, keduanya dengan intensitas yang tetap.
Sejak erupsi awal, BMKG telah menerbitkan sekitar 50 Significant Meteorological Information (SIGMET) guna memastikan keselamatan navigasi penerbangan di ruang udara terdampak.
Sejumlah bandara di wilayah barat Indonesia sempat ditutup secara bergilir.
Berdasarkan pembaruan status operasional per 6 September 2026 pukul 12.30 WIB, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) ditutup pada pukul 02.08–13.30 WIB, Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) pada pukul 07.20–14.00 WIB, dan Bandara Radin Inten II Lampung (TKG) pada pukul 04.18–14.00 WIB.
Selain itu, Bandara Husein Sastranegara Bandung (BDO) ditutup pada pukul 12.07–16.00 WIB, Bandara Budiarto Curug (RTO) pada pukul 06.48–13.30 WIB, Bandara Pondok Cabe (PCB) pada pukul 10.05–14.00 WIB, serta Bandara Taufik Kiemas (TFY) pada pukul 11.30–15.00 WIB.
Penutupan Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi titik keberangkatan dan kedatangan utama rute Jakarta-Lombok yang menjadi penyebab langsung terganggunya jadwal penerbangan pada rute tersebut.
BMKG mencatat sejumlah fenomena sekunder yang menyertai aktivitas erupsi Anak Krakatau, termasuk petir vulkanik dan gangguan geomagnetik yang terpantau oleh sensor di Lampung Selatan dan Serang.
Aktivitas ini terjadi bersamaan dengan peningkatan sambaran petir vulkanik dalam 12 jam terakhir, meski intensitas gangguan tercatat lebih rendah dibandingkan saat letusan awal.
(*)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.