TRIBUNNEWS.COM - Praktisi otomotif, Anjar Leksana, mengingatkan bahwa abu vulkanik imbas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda bukanlah debu biasa, sehingga pemilik kendaraan perlu memperhatikan cara perawatan yang tepat.
Adapun, saat ini, berdasarkan hasil analisis dan evaluasi secara menyeluruh hingga 7 September 2026, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap pada Level III (Siaga).
Meski demikian, bukan berarti terbebas dari abu vulkanik. Oleh karena itu, Anjar menyarankan agar perawatan kendaraan dilakukan dengan benar supaya tidak berdampak pada mesin.
"Kalau baret, kompresi di dalam mobil pasti jadi bermasalah. Kalau kompresinya bermasalah, mesin jadi lebih boros dan kemudian pasti jadi lebih panas, dampak parahnya lagi bisa jadi turun mesin. Nah, turun mesin itu kan pasti extra cost ya, tidak murah," ungkap Anjar, Selasa (8/9/2026), dikutip dari YouTube Kompas TV.
Anjar juga mengatakan bahwa abu vulkanik yang menempel pada bagian kondensor dan evaporator mobil dapat berdampak pada sistem pelepasan panas, mengingat kedua komponen tersebut berada di bagian depan kendaraan.
"Jadi pasti kinerja mesin jadi lebih berat, jadi berantakan, kurang baik. Memang perlu diperhatikan bagian kebersihan di dalam mobil. Apalagi kalau misal di bagian kaki-kaki juga perlu diperhatikan karena banyak sensor-sensor di situ. Kalau misal ketutup debu bisa bermasalah," jelasnya.
Menurut Anjar, bagian kendaraan yang paling rentan terhadap abu vulkanik adalah filter, terutama filter udara mesin. Karena itu, filter udara harus dijaga agar tidak kotor, begitu juga dengan filter AC.
Ia menambahkan, penggantian filter umumnya dilakukan setiap 10.000 kilometer atau saat servis berkala di dealer resmi.
Namun, karena adanya kondisi abu vulkanik ini, pemilik kendaraan disarankan mengecek filter tersebut meski belum memasuki jadwal penggantian.
"Kalau misal baru setengah tahun kita pakai kendaraan itu dan ternyata ada agak brebet, ada masalah, sebaiknya kita cek dulu bagian filter dibuka, dibersihkan, itu posisinya dekat dengan mesin, agak gampang sih kalau kita bisa membukanya sendiri."
Baca juga: IDI Imbau Masyarakat Bersihkan Abu Vulkanik Erupsi Anak Krakatau dengan Benar: Disiram Air Dulu
"Nah, itu kita pastikan, kalau misal itu bermasalah, yang namanya filter itu fast moving, jadi satu kali pakai, kalau sudah kotor sebaiknya diganti. Toh harganya paling ratusan ribu saja, tidak sampai juta-jutaan. Jadi sebaiknya walaupun belum harus servis, itu dibersihkan dulu," papar Anjar.
Selain itu, Anjar juga mengatakan bagian wiper dan kaca kendaraan juga perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, abu vulkanik yang menempel pada kaca sebaiknya tidak dibersihkan sembarangan, seperti menggunakan kemoceng atau blower, karena cara tersebut dinilai kurang tepat.
"Tepatnya adalah pakai air bertekanan. Jadi, debu-debu itu bisa terbilas dengan baik. Apalagi itu pH-nya kan asam ya, itu bisa korosif dan kalau di kaca bahkan bisa abrasif, kalau misal itu sampai baret, harus dipoles lagi kacanya, kan ekstra cost lagi," ucap Anjar.
Oleh karena itu, Anjar mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan menghindari penggunaan blower saat membersihkan abu vulkanik dari kendaraan.
"Banyak banget di media sosial itu pakai blower. Kalau pakai blower itu kan sebenarnya berbahaya ya, di rumah kita kan banyak anak-anak kita, saudara-saudara kita, keluarga kita. Bahaya kalau misal abunya itu kan kayak serpihan kaca yang sangat kecil bisa ke mana-mana."
"Memang paling baik adalah tutup pintu rumah semuanya dengan baik. Di teras kita bersihkan dengan air bertekanan tinggi. Jadi pastikan kebersihannya dengan maksimal," ujar Anjar.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga kini masih memantau pergerakan abu vulkanik secara berkala.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan material abu vulkanik pada Selasa (8/9/2026) pukul 09.00 WIB secara umum berada hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,13 kilometer.
Abu bergerak ke arah selatan-barat daya. Sebaran tersebut mencakup sebagian wilayah Banten bagian barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten.
Kecepatan pergerakan abu berada pada kisaran 5–10 knot atau sekitar 9,3–18,5 kilometer per jam.
“Pantauan cuaca di sekitar GAK (Gunung Anak Krakatau) dan perairan Selat Sunda cenderung cerah hingga cerah berawan dari pagi hingga malam hari,” ujar Andri.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari pemantauan BMKG terhadap dinamika atmosfer di sekitar Gunung Anak Krakatau dan wilayah yang terdampak sebaran material vulkanik.
Kini, delapan bandar udara yang sebelumnya ditutup sementara akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK), pun kembali beroperasi.
BMKG memastikan hasil pengujian paper test menunjukkan hasil negatif dari paparan abu vulkanik pada Selasa (8/9/2026).
Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi ruang udara dan area landasan sebelum operasional penerbangan kembali dibuka.
“Hasil pengamatan paper test per pukul 06.00 WIB menyatakan bahwa delapan bandara yang sebelumnya ditutup operasionalnya dinyatakan negatif dari paparan abu vulkanik. BMKG tetap memantau pergerakan abu secara real-time agar seluruh penerbangan berjalan aman,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, pada siaran pers, Selasa.
Di tengah pembukaan kembali bandara, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.
Mengacu pada informasi terbaru PVMBG pada pukul 07.49 WIB, teramati erupsi baru dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.
Erupsi tersebut masuk dalam kategori erupsi strombolian atau erupsi kecil.
Selain memantau erupsi, BMKG juga memantau aktivitas gunung api melalui sensor magnet bumi dan lightning detector.
Pemantauan tersebut mencatat adanya gangguan geomagnetik kecil dan sambaran petir vulkanik yang terjadi mulai pukul 21.00 hingga pukul 23.00 WIB.
Namun, aktivitas tersebut menunjukkan penurunan intensitas dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Artinya, meski aktivitas erupsi kecil masih terpantau, BMKG tetap melakukan pemantauan terhadap perubahan aktivitas GAK dan dampaknya terhadap kondisi atmosfer.
(Tribunnews.com/Rifqah, Aisyah Nursyamsi)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.