Liputan6.com, Jakarta - Tanpa disadari, sebagian orang punya kebiasaan menggoyangkan kaki ketika sedang duduk. Gerakannya bisa berupa kaki yang naik-turun secara berulang, ujung kaki yang mengetuk lantai, atau lutut yang bergerak tanpa henti. Kebiasaan ini dapat muncul ketika sedang bekerja, belajar, mengikuti rapat, bahkan saat duduk santai.


Bagi orang lain, gerakan tersebut mungkin terlihat seperti tanda gugup, tidak sabar, atau tidak bisa diam. Namun, gerakan kecil yang dilakukan berulang kali juga dapat berkaitan dengan tingkat aktivitas tubuh, respons terhadap tekanan, perhatian, dan cara seseorang mengatur ketegangan.


Berbagai penelitian yang disebutkan dalam sumber terkait menunjukkan bahwa orang memang berbeda dalam tingkat aktivitas spontan, respons terhadap lingkungan, serta kecenderungan mengalami kegelisahan fisik. Karena itu, kebiasaan menggoyangkan kaki dapat menjadi gambaran mengenai kecenderungan perilaku tertentu, meski tidak bisa digunakan sebagai cara pasti untuk menentukan kepribadian seseorang.


Berikut karakter orang yang suka menggoyangkan kaki saat duduk dari sudut pandang psikologi, dirangkum Liputan6.com dari Foodmap Everyday, Rabu (9/9/2026).



Energinya Tinggi dan Lebih Peka terhadap Tekanan


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

1. Memiliki energi fisik yang tinggi


Orang yang sering menggoyangkan kaki dapat memiliki tingkat energi fisik yang cukup tinggi, bahkan ketika sedang tidak melakukan aktivitas berat. Tubuhnya seolah tetap membutuhkan sedikit gerakan ketika berada dalam kondisi duduk atau beristirahat.


Penelitian James Levine dan tim dari Mayo Clinic yang diterbitkan di Science menunjukkan adanya perbedaan besar dalam jumlah energi yang dikeluarkan seseorang melalui gerakan-gerakan kecil yang tidak disadari. Dalam penelitian tersebut, beberapa peserta lebih sering bergeser, melakukan peregangan, dan melakukan gerakan kecil sepanjang hari dibandingkan peserta lainnya.


Temuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat aktivitas spontan memang dapat berbeda pada setiap orang. Kebiasaan menggoyangkan kaki dapat menjadi salah satu bentuk gerakan kecil tersebut.


2. Lebih mudah menunjukkan respons ketika berada di bawah tekanan


Gerakan kaki sering kali menjadi lebih terlihat ketika seseorang berada dalam situasi yang membuatnya tertekan. Wawancara kerja, percakapan yang menegangkan, atau lingkungan yang penuh ketidakpastian dapat membuat gerakan tersebut semakin sering muncul.


Sumber yang merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders dari American Psychiatric Association menjelaskan bahwa agitasi psikomotor dapat muncul sebagai ekspresi perilaku dari kecemasan. Gerakan berulang menjadi salah satu bentuk aktivitas motorik yang dapat menyertai kondisi tersebut.


Dengan demikian, pada sebagian orang, kaki yang terus bergerak dapat berkaitan dengan cara tubuh merespons ketegangan, bukan semata-mata karena tidak sabar.



Pikirannya Aktif dan Sering Tenggelam dalam Pemikiran


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

3. Cenderung memiliki pikiran yang terus bergerak


Orang yang suka menggoyangkan kaki sering terlihat sulit benar-benar diam. Salah satu kemungkinan yang dibahas dalam sumber adalah adanya aktivitas mental yang tinggi, terutama ketika seseorang banyak memikirkan rencana, kemungkinan, atau kejadian yang akan datang.


Penelitian dari Princeton University yang diterbitkan dalam jurnal Neuron membahas bagaimana otak melakukan simulasi terhadap kejadian di masa depan. Penelitian tersebut menunjukkan keterlibatan sistem saraf yang berhubungan dengan perencanaan dan prediksi ketika seseorang membayangkan peristiwa mendatang.


Namun, penelitian tersebut tidak secara langsung menyimpulkan bahwa orang yang banyak berpikir tentang masa depan pasti menggoyangkan kaki. Hubungannya lebih tepat dipahami sebagai gambaran bahwa aktivitas mental dan perilaku fisik dapat sama-sama menunjukkan tingkat keterlibatan atau aktivitas seseorang.


4. Sering tenggelam dalam pikiran sendiri


Kebiasaan menggoyangkan kaki juga dapat terlihat ketika seseorang sedang larut dalam pikirannya sendiri. Misalnya, tubuh tetap duduk di tempat yang sama, tetapi pikiran sibuk mengingat percakapan, membayangkan kejadian berikutnya, atau memikirkan berbagai kemungkinan.


Penelitian berjudul A Wandering Mind Is an Unhappy Mind yang diterbitkan dalam Science menunjukkan bahwa pikiran manusia cukup sering mengembara dari aktivitas yang sedang dilakukan menuju berbagai narasi internal.


Dalam konteks kebiasaan menggoyangkan kaki, gerakan fisik tersebut dapat muncul bersamaan dengan kondisi ketika perhatian seseorang tidak sepenuhnya tertuju pada situasi di depannya. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus membuktikan bahwa mind wandering menyebabkan seseorang menggoyangkan kaki.



Sulit Diam dan Cukup Responsif terhadap Lingkungan


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

5. Sulit benar-benar diam ketika sedang santai


Ada orang yang tetap menggerakkan kaki ketika sedang menonton film, melakukan percakapan melalui telepon, atau duduk dalam suasana yang sebenarnya nyaman. Mereka mungkin tidak merasa cemas, tetapi tubuhnya tetap melakukan gerakan kecil.


Sumber dari Sleep Medicine Reviews yang membahas gangguan gerakan dan tidur menunjukkan bahwa sebagian orang dapat mengalami bentuk kegelisahan motorik yang berada di bawah tingkat klinis. Sistem saraf tetap berada dalam kondisi aktif meskipun seseorang sedang tidak membutuhkan banyak gerakan.


Karena itu, kebiasaan menggoyangkan kaki tidak selalu berarti seseorang sedang gugup. Pada sebagian orang, gerakan tersebut dapat muncul sebagai bagian dari kecenderungan tubuh untuk tetap aktif ketika sedang tidak banyak bergerak.


6. Lebih peka terhadap rangsangan di sekitar


Orang yang sering melakukan gerakan kecil juga dapat menunjukkan respons yang lebih kuat terhadap lingkungan tertentu. Suara yang mengganggu, cahaya yang berkedip, atau perubahan suasana sosial dapat membuat tubuh ikut bereaksi.


Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Research in Personality membahas perbedaan sensitivitas seseorang terhadap lingkungan serta bagaimana individu merespons rangsangan di sekitarnya. Sumber tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki perbedaan dalam sensitivitas terhadap lingkungan.


Dalam situasi yang terlalu banyak memberikan rangsangan, gerakan tubuh dapat menjadi salah satu respons yang terlihat. Meski demikian, kebiasaan menggoyangkan kaki saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang memiliki sensitivitas lingkungan yang tinggi.



Aktif dan Kurang Nyaman dengan Situasi yang Lambat


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

7. Memiliki temperamen yang aktif dan dinamis


Gerakan kaki yang terus muncul ketika duduk dapat menjadi bagian dari temperamen yang aktif. Orang dengan kecenderungan seperti ini mungkin lebih menikmati aktivitas yang melibatkan gerakan dibandingkan terus berada dalam kondisi pasif.


Penelitian psikolog dari University of Oregon yang diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences membahas hubungan antara kepribadian dan tingkat aktivitas. Penelitian tersebut menemukan bahwa individu dengan skor behavioral activation yang tinggi cenderung lebih sering mencari stimulasi dan aktivitas.


Ketika stimulasi dari lingkungan berkurang, gerakan kecil seperti menggoyangkan kaki dapat menjadi salah satu bentuk aktivitas yang dilakukan tubuh.


8. Tidak terlalu nyaman dengan situasi yang berjalan lambat


Kebiasaan mengetukkan kaki atau menggoyangkan kaki juga sering terlihat ketika seseorang harus menunggu. Antrean panjang, rapat yang berjalan lambat, atau situasi yang tidak segera menghasilkan perkembangan dapat membuat gerakan tersebut muncul.


Sumber dari American Psychiatric Association mengenai kondisi yang berkaitan dengan perhatian menyebutkan bahwa kesulitan untuk tetap duduk atau menunggu dengan tenang dapat muncul dalam bentuk gerakan-gerakan kecil atau fidgeting.


Dalam konteks sehari-hari, gerakan kaki dapat menjadi salah satu bentuk pelepasan energi ketika seseorang berada dalam situasi yang mengharuskannya menunggu atau tetap duduk dalam waktu tertentu.



Respons Emosinya Cepat dan Sering Mengatur Ketegangan lewat Gerakan


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

9. Respons emosinya dapat muncul dengan cepat


Sebagian orang memiliki respons emosional yang relatif cepat. Ketika merasa bersemangat, tegang, atau mengantisipasi sesuatu, perubahan kondisi emosional tersebut dapat diikuti perubahan pada aktivitas tubuh.


Penelitian dari University of California, Berkeley, yang diterbitkan dalam jurnal Cognition and Emotion membahas reaktivitas emosional dan respons fisiologis. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa reaktivitas emosional dapat berkaitan dengan aktivasi fisiologis seperti peningkatan detak jantung dan ketegangan otot.


Hal ini membantu menjelaskan mengapa gerakan fisik tertentu dapat muncul ketika seseorang mengalami peningkatan emosi. Namun, sumber tersebut tidak menyatakan bahwa menggoyangkan kaki merupakan ukuran langsung dari reaktivitas emosional seseorang.


10. Menggunakan gerakan sebagai cara mengatur ketegangan


Menariknya, orang yang menggoyangkan kaki belum tentu menyadari bahwa dirinya sedang melakukannya. Gerakan tersebut dapat berlangsung otomatis, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi yang membutuhkan pengaturan tingkat ketegangan atau gairah tubuh.


Penelitian yang dibahas dalam Frontiers in Psychology mengenai gerakan repetitif dan regulasi diri menggambarkan gerakan semacam ini sebagai strategi koping yang dapat berlangsung tanpa kesadaran penuh.


Karena itu, menggoyangkan kaki dapat memiliki fungsi yang berbeda pada setiap orang. Bagi sebagian orang, gerakan tersebut mungkin menjadi cara tubuh menjaga atau mengatur tingkat arousal tanpa perlu dilakukan secara sadar.



Restless dan Tetap Mengeluarkan Energi lewat Gerakan Kecil


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

11. Dapat mengalami kegelisahan yang memengaruhi fokus dan tidur


Jika rasa tidak nyaman pada kaki muncul secara terus-menerus, terutama ketika sedang beristirahat atau pada malam hari, kebiasaan tersebut perlu dibedakan dari sekadar fidgeting biasa.


Ulasan penelitian mengenai restless legs syndrome yang disebutkan dalam sumber membahas hubungan antara gejala restless legs, gangguan tidur, dan kesulitan perhatian pada siang hari. Gangguan tidur akibat rasa tidak nyaman atau kegelisahan pada kaki dapat berkaitan dengan kondisi seseorang pada keesokan harinya.


Namun, menggoyangkan kaki saat duduk saja tidak berarti seseorang mengalami restless legs syndrome. Kebiasaan fidgeting biasa dan kondisi medis tersebut tidak dapat disamakan hanya berdasarkan satu perilaku.


12. Tetap aktif bahkan melalui gerakan kecil


Kebiasaan menggoyangkan kaki juga memiliki sisi lain yang cukup menarik. Gerakan kecil yang dilakukan berulang kali tetap membutuhkan energi, meskipun jumlahnya tidak sebesar aktivitas fisik seperti berjalan atau berolahraga.


Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ Open Sport & Exercise Medicine membahas pengeluaran energi dari aktivitas sehari-hari dan gerakan kecil tubuh. Sumber tersebut menunjukkan bahwa fidgeting dapat meningkatkan pengeluaran energi dibandingkan kondisi istirahat.


Artinya, kaki yang terus bergerak memang menggunakan energi tambahan. Namun, ini bukan berarti menggoyangkan kaki dapat menggantikan olahraga atau menjadi metode khusus untuk membakar kalori.



Goyang Kaki Tidak Bisa Menjadi Penentu Kepribadian


Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)
Ilustrasi menggoyangkan kaki saat duduk (Pexels)

Berbagai penelitian dalam sumber-sumber tersebut menunjukkan bahwa gerakan tubuh dapat berkaitan dengan aktivitas spontan, respons terhadap tekanan, sensitivitas terhadap lingkungan, pencarian stimulasi, regulasi diri, hingga kondisi istirahat. Tetapi tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa satu kebiasaan seperti menggoyangkan kaki dapat digunakan untuk menentukan kepribadian seseorang secara pasti.


Orang yang menggoyangkan kaki bisa saja sedang gugup, bosan, berpikir, membutuhkan stimulasi, atau sekadar memiliki kebiasaan gerak yang dilakukan tanpa sadar. Konteks ketika gerakan tersebut muncul jauh lebih penting daripada gerakannya saja.



Pertanyaan Seputar Kebiasaan Menggoyangkan Kaki


Apakah menggoyangkan kaki berarti seseorang sedang gugup?


Tidak selalu. Sumber yang diberikan menunjukkan bahwa gerakan motorik dapat muncul ketika seseorang mengalami kecemasan atau tekanan, tetapi gerakan kaki juga dapat berkaitan dengan aktivitas spontan, pencarian stimulasi, atau regulasi diri.


Apakah orang yang suka menggoyangkan kaki memiliki energi tinggi?


Hal tersebut dapat menjadi salah satu kemungkinan. Penelitian James Levine dan tim menunjukkan bahwa manusia berbeda dalam jumlah gerakan spontan dan energi yang dikeluarkan melalui aktivitas kecil yang tidak disadari.


Apakah menggoyangkan kaki menunjukkan seseorang tidak sabar?


Gerakan tersebut dapat muncul ketika seseorang berada dalam situasi menunggu atau tidak nyaman dengan kondisi yang berjalan lambat. Namun, kebiasaan menggoyangkan kaki saja tidak cukup untuk memastikan seseorang memiliki sifat tidak sabar.


Apakah menggoyangkan kaki bisa membantu menenangkan diri?


Sumber mengenai gerakan repetitif dan regulasi diri menunjukkan bahwa gerakan tertentu dapat berfungsi sebagai strategi koping yang membantu mengatur tingkat arousal. Gerakannya bahkan dapat dilakukan tanpa disadari.


Apakah menggoyangkan kaki bisa membakar energi?


Ya, gerakan kecil tetap membutuhkan energi. Penelitian yang diterbitkan dalam BMJ Open Sport & Exercise Medicine membahas peningkatan pengeluaran energi dari aktivitas kecil seperti fidgeting. Namun, gerakan tersebut tidak dapat dianggap sebagai pengganti olahraga.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.