TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Otoritas iklim, Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) melansir, 60 hari sudah sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan, masuk kategori Hari Tanpa Hujan (HTH).

Dilansir Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Selasa (15/9/2026), sekitar 81 persen dari 45.330,55 km⊃2; luas wilayah Sulsel, berada dalam episode panas-kerontang.

Panas dengan suhu tertinggi rerata 36 derajat celcius.

Sedangkan status kering kerontang, memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di sisi lain, ada paradoks cuaca.

Meski status panas-kering, tetapi hujan lokal dan angin kencang tetap bisa muncul, di periode Selasa (15 hingga 21 September 2026.

Awan hujan bisa terbentuk di langit selatan Sulsel, dipicu aktivitas Gelombang Rossby, Gelombang Kelvin serta perlambatan /pertemuan angin di sekitar Selat Makassar. 

BMKG juga mengingatkan, sekitar 12 kabupaten di sisi timur Selat Makassar, perlu mewaspadai angin kencang pada periode 15 hingga 17 September dan 18–21 September.

Ke-12 Kabupaten itu mulai dari Sinjai, Selayar, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, dan Pinrang. 

Kecepatan angin siang hingga malam, rerata 25 hingga 41 km per jam, di gugus kabupaten dan kepulauan.

Status  60 hari tanpa hujan di Sulsel ini,  bersama 8 provinsi lain; Lampung, Aceh, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Utara. 

"Suhu udara  tinggi dapat menurunkan kenyamanan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.” demikian narasi rilis yang diterima Tribun, Selasa (15/9/2026).

Berikut 6 Dampak dari kondisi cuaca dan iklim di Sulsel ini.

1. BMKG mencatat suhu maksimum di atas 36°C. Kondisi ini dipantik atmosfer kering dan minim tutupan awan. Radiasi matahari lebih maksimal mencapai permukaan. Warga beraktivitas luar disarankan menggunakan kacamata anti radiasi

2. Sulsel menghadapi potensi ekosistem cuaca defisit hujan (el Nino) hingga akhir tahun 2026.

3. Dengan kelembaban rendah, dampak paling serius warga bukan sekadar “gerah”, melainkan kekeringan, minim air dan debu akibat hembusan angin kencang.

4. BMKG memprediksi dengan kategori curah hujan rendah hingga menengah, bahkan kurang dari 50 mm per dasarian pada Dasarian II September; ini membuat pasokan air tanah berkurang

5. BMKG secara eksplisit mengingatkan anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak bekerja di luar ruangan. Dehidrasi dan kelelahan menjadi mitigasi risiko.

6. BMKG mencatat 104 hotspot tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Sulawesi secara keseluruhan. Dalam kondisi atmosfer kering, api lebih mudah bertahan dan penyebaran asap berpotensi mengganggu kualitas udara, kesehatan, jarak pandang, dan transportasi. (*)

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.