SERAMBINEWS.COM - Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas energi global.
Arab Saudi secara mendadak memangkas pengiriman minyak mentah ke Benua Eropa setelah serangan drone merusak jalur pipa ekspor utamanya yang membentang ke kawasan Laut Merah pada pertengahan September 2026.
Langkah darurat ini memaksa negara-negara Eropa, khususnya pembeli raksasa seperti Polandia, berpacu dengan waktu berburu kargo pengganti di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus angka lebih dari 120 dollar AS per barel.
Serangan udara tersebut menghantam dan memaksa penutupan sementara jalur pipa minyak gurun timur-barat (East-West pipeline).
Padahal, infrastruktur vital ini menjadi penyelamat utama produsen minyak Teluk untuk mengamankan jalur ekspor selama enam bulan terakhir, menyusul penutupan dan gangguan navigasi di Selat Hormuz.
Jalur pipa ini sebelumnya mampu mengalirkan 7 juta hingga 9 juta barel per hari, atau sekitar 30 hingga 40 persen dari volume ekspor Teluk sebelum konflik pecah.
Meskipun demikian, hingga kini belum diketahui pasti berapa banyak kargo ke Eropa yang dibatalkan serta berapa lama penangguhan pemuatan di pelabuhan strategis Yanbu akan berlangsung.
Baca juga: VIDEO Detik-detik Kapal Tanker Minyak Meledak di Selat Hormuz Terkena Ranjau Laut
Buntut dari penangguhan aktivitas pemuatan di Yanbu, Arab Saudi langsung mengalihkan fokus pengiriman melalui terminal Ras Tanura dan Juaymah.
Data dari perusahaan analitik Vortexa mencatat bahwa pada periode 7 hingga 13 September 2026, Arab Saudi memuat 22 juta barel minyak mentah menggunakan 12 kapal tanker.
Volume ini melonjak drastis dibandingkan rata-rata tiga pekan sebelumnya yang hanya mengoperasikan 6 hingga 7 kapal per minggu.
Dampak pemangkasan pasokan ini paling dirasakan oleh Orlen, raksasa minyak terintegrasi asal Polandia. Sejak 2022, Aramco resmi menjadi pemasok utama yang memenuhi sekitar 40 persen kebutuhan minyak mentah Orlen.
Keputusan bergandengan dengan Saudi tersebut awalnya diambil untuk memutus ketergantungan Polandia pada pasokan Rusia. Namun, situasi terbaru justru membuat jaringan kilang mereka di Eropa Timur rentan terhadap gejolak pasokan dari Timur Tengah.
Berdasarkan data Kpler, pasokan harian minyak mentah Arab Saudi mengalir deras ke jaringan kilang Orlen melalui Pelabuhan Gdansk di Polandia sebanyak 160.000 barel per hari dan Pelabuhan Butinge di Lituania sebesar 63.000 barel per hari.
Pasokan ini sangat krusial untuk menjamin operasional kilang minyak milik Orlen yang tersebar di Polandia, Lituania, dan Republik Ceko.
Baca juga: Houthi Bantah Targetkan Mekkah, Saudi Klaim Drone Berhasil Dicegat
Di tengah tekanan pasokan yang kian menghimpit, manajemen Orlen memastikan bahwa seluruh kilangnya sejauh ini masih beroperasi normal tanpa gangguan pasokan bahan baku.
"Menyesuaikan dan mengoptimalkan volume pembelian adalah bagian standar dan berkelanjutan dari operasi Grup Orlen, yang didorong oleh kebutuhan produksi saat ini dan kondisi pasar yang berubah," tegas juru bicara Orlen saat memberikan klarifikasi terkait kondisi perusahaan.
Guna menutup celah pasokan yang hilang dari Arab Saudi, Orlen langsung bergerak agresif memburu kargo minyak mentah dari berbagai wilayah dunia.
Pada tender spot Jumat dan Senin lalu, perusahaan memborong minyak mentah Laut Utara seperti varian Grane, Johan Sverdrup, dan Johan Castberg.
Tidak berhenti di situ, mereka juga meluaskan jangkauan pembeliannya dengan membidik pasokan jarak jauh, termasuk jenis US WTI Midland dari Amerika Serikat dan Kazakh CPC Blend dari Asia Tengah.
Pada Selasa berikutnya, Orlen kembali membuka tender lanjutan untuk mengamankan minyak mentah Laut Utara atau Aljazair untuk pengiriman Oktober, serta minyak mentah Guyana untuk jadwal pengiriman November mendatang. (Serambinews.com/Kompas.com)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.