TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keluarga Alumni Universitas Atma Jaya Yogyakarta (KAMAJAYA) berkolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) Perwakilan Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan talkshow dan book launching “Living Net Zero” dalam rangka Dies Natalis ke-61 UAJY.

Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Kampus III, Gedung St. Bonaventura, pada Senin (14/9/2026) dan dihadiri oleh akademisi, praktisi bangunan hijau, mitra industri, dan sivitas akademika.

Mengusung tema “Menghadapi Net Zero di Indonesia 2060”, forum ini menjadi rangkaian dari Indonesia Green Building Festival (IGBF) 2026 di Yogyakarta.

IGBF 2026 merupakan bagian dari kegiatan nasional Green Building Council Indonesia selama September untuk meningkatkan kesadaran praktik bangunan hijau serta mendukung perjalanan Indonesia menuju implementasi net zero emission.  

Dalam sambutannya, Rektor UAJY, Dr. G. Sri Nurhartanto, S.H., LL.M., menekankan bahwa target net zero emission Indonesia pada 2060 membutuhkan perubahan yang dimulai dari setiap individu dan diwujudkan melalui aksi nyata bersama.

Kegiatan tersebut resmi dibuka dengan pemukulan gong oleh Rektor UAJY bersama Ir. Ignesjz Kemalawarta, MBA., GP. selaku Chairperson GBCI, Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., D.Div., IAI., GP. selaku Ketua GBCI Yogyakarta, dan Dr. Ir. Desiderius Viby Indrayana, S.T., M.M., M.T., IPU. selaku Ketua Pengurus Pusat KAMAJAYA.

Ketua Pengurus Pusat KAMAJAYA, turut menyampaikan syukur dan harapan pada semua pihak yang terlibat atas pergerakan UAJY menjadi kampus go green.

“Sangat bersyukur kampus kita sudah boleh mengklaim dengan adanya MoU ini kita menjadi go green, selain itu KAMAJAYA juga akan berikatan dengan pihak GBCI. Kita harapkan seluruh alumni UAJY khususnya Fakultas Teknik memiliki sense of belonging pada green, smart, and sustainability,” ujar Desiderius.

Baca juga: Hasil Uji Lab Kasus Keracunan MBG di Turi Sleman: Menu Nasi dan Bola Daging Terkontaminasi Bakteri 

Kerja sama tersebut dikukuhkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Chairperson GBCI dengan Rektor UAJY dan Ketua GBCI Yogyakarta dengan Ketua Pengurus Pusat KAMAJAYA yang disambung dengan penyerahan cendera mata.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi product information tentang material bangunan ramah lingkungan, lalu talkshow dan book launching “Living Net Zero” karya Ar. Daud Tjondrorahardja, MBA., D.Div., IAI., GP. dengan menghadirkan tiga narasumber yang dimoderatori oleh Ar. Nicolaus Nino Ardhiansyah, M.Sc., IAI. selaku Dosen Prodi Arsitektur UAJY dan Sekretaris Jenderal KAMAJAYA.

Daud Tjondrorahardja selaku Ketua GBCI Yogyakarta dan alumni UAJY menekankan bahwa gagasan perubahan net zero dapat diterapkan mulai dari rumah tinggal.

Menurutnya, pengalaman membangun Rumah Dusun Pajangan 11, Yogyakarta, menjadi sebuah living laboratory yang menguji prinsip desain berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Daud merangkum konsep net zero dalam siklus observe, measure, learn, improve, dan evolve.

“Cahaya matahari kita manfaatkan sebelum lampu dinyalakan. Angin dimanfaatkan sebelum AC dibutuhkan. Air hujan ditangkap sebelum menjadi limpasan. Matahari dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Vegetasi digunakan untuk membentuk mikroklimat. Net zero bukan hanya persoalan teknologi. Net Zero dimulai dari cara kita merancang, kemudian dari cara kita menghuni, mengukur, dan akhirnya dari kemauan kita untuk terus memperbaiki,” jelas Daud.

Sementara itu, Dr. Ir. Agustinus Djoko Istiadji, M.Sc., Bld.Sc., Ar., IAI selaku Dosen Departemen Arsitektur UAJY menjelaskan bahwa manusia memiliki filosofi antroposentrisme sebagai makhluk paling berkuasa di alam semesta sehingga pembangunan yang terjadi tanpa kehati-hatian menyebabkan efek gas rumah kaca dan degradasi lingkungan.

Djoko menekankan pentingnya kesadaran eksistensial demi keberlanjutan generasi penerus melalui efisiensi energi secara maksimal, konversi energi terbarukan untuk mengurangi fossil fuel, dan kebiasaan hemat energi setiap individu.

Arief Sutanto selaku Concrete Technology & QA-QC Manager PT Solusi Bangun Beton, menekankan bahwa terdapat tanggung jawab untuk menanggulangi dampak negatif terutama produksi material semen sebagai salah satu penyumbang terbesar emisi karbon di dunia.

Menurutnya, beberapa langkah yang nyata tersebut adalah menggunakan semen hijau ramah lingkungan, menghitung potensi emisi karbon sebelum proyek dijalankan, mengolah sampah menjadi bahan bakar, mengganti sumber listrik dengan solar panel, dan mendaur ulang limbah air kotor. 

Kerja sama antara KAMAJAYA dan GBCI diharapkan menjadi inspirasi sekaligus langkah nyata dalam perjalanan menuju Indonesia yang lebih sehat, berkelanjutan, dan komitmen menuju net zero emission 2060.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.