Di Maluku, merawat konektivitas bukan sekadar menghubungkan titik-titik di atas peta, melainkan memastikan kehidupan di tiap pulau tetap memiliki jalan untuk saling menyapa.
Ambon (ANTARA) -
Tengah malam di depan gerbang Dermaga Waipirit, Seram Bagian Barat, puluhan truk warna-warni bermuatan hasil laut dan kebun berjejer rapi.
Di balik jendela berdebu, para sopir tampak tertidur pulas. Tak jauh dari sana, para pengendara motor berselimut jaket tebal ikut terlelap di kursi panjang ruang tunggu keberangkatan ferry menuju Pelabuhan Hunimua, Ambon.
Pemandangan ini menjadi santapan sehari-hari bagi setiap warga yang harus menyeberang, kendaraan yang harus bergerak, dan barang kebutuhan yang harus sampai ke pulau tujuan.
Para calon penumpang dan kendaraan kerap menanti hingga berjam-jam. Ada yang sengaja datang dini hari demi mengejar pelayaran pertama pukul 05.00 WIT, ada pula yang terpaksa tertahan sejak malam karena tertinggal kapal terakhir pukul 21.00 WIT.
Begitulah denyut aktivitas jalur laut di Maluku. Setiap pelayaran bukan sekadar perjalanan menyeberangi selat, melainkan napas bagi keberlanjutan hidup di setiap pulau. Kapal ferry adalah urat nadi penopang ekonomi; kestabilan harga kebutuhan pokok amat bergantung padanya, dan roda perekonomian bisa seketika lumpuh jika pelayaran terhenti.
Melihat vitalnya jalur ini, PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ambon resmi memberlakukan layanan 24 jam di lintasan Hunimua-Waipirit setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu mulai Juni 2026. Layanan nonstop ini sebelumnya sempat diuji coba saat momen Lebaran Idul Fitri pada Maret 2026, lalu dilanjutkan pada libur panjang Mei dan Idul Adha.
Tingginya antusiasme dan mobilitas warga mendorong ASDP memperluas layanan. Lewat kolaborasi bersama Dinas Perhubungan, BPTD Maluku, dan PT Panca Karya, skema ini dihadirkan agar perjalanan warga Pulau Seram ke Kota Ambon tidak lagi terbatas oleh jadwal penyeberangan.
Pada layanan 24 jam ini, kapal khusus beroperasi mulai pukul 23.30 WIT hingga 04.00 WIT. Setelahnya, operasional langsung disambung oleh kapal reguler yang memulai proses pemuatan pukul 05.00 WIT.
Kebijakan anyar ini membuka ruang perjalanan hingga malam dan dini hari, memberikan fleksibilitas lebih bagi pergerakan masyarakat, kendaraan, serta distribusi logistik antara Ambon dan Seram.
Dari Hunimua ke pulau-pulau lain
Hunimua dan Waipirit dipisahkan jarak sekitar 11,5 mil laut. Angka ini mungkin terdengar dekat di atas kertas, tetapi bagi masyarakat kepulauan, rentang tersebut adalah bentangan jarak yang harus terus dijembatani setiap kali ada jiwa yang hendak berpindah pulau.
Kedua pelabuhan ini menghubungkan Pulau Ambon dan Pulau Seram. Layanan 24 jam secara khusus diterapkan di lintasan ini karena masuk dalam daftar lintasan pantauan nasional, menjadi satu dari 15 jalur penyeberangan tersibuk dengan mobilitas penumpang serta volume logistik tertinggi di Indonesia.
“Kebijakan 24 jam ini diberlakukan agar masyarakat Seram bisa berkunjung ke Kota Ambon saat akhir pekan, lalu langsung kembali lagi begitu urusannya selesai,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon, Hafiluddin Usman.
Ia berharap, peningkatan kualitas layanan penyeberangan dan fasilitas pelabuhan ini mampu memperkuat konektivitas antarpulau sekaligus memacu pertumbuhan ekonomi, perdagangan, hingga sektor pariwisata di Maluku.
Kehadiran ASDP di Maluku memang memegang peran strategis mengingat sebagian besar mobilitas warga masih bergantung pada transportasi laut. Saat ini, ASDP mengoperasikan 11 kapal di wilayah Maluku. Delapan kapal melayani rute dari Pulau Ambon hingga Pulau Buru, sementara tiga kapal lainnya beroperasi di wilayah Maluku Tenggara.
Perpanjangan operasional hingga dini hari memberi napas baru bagi seluruh aktivitas warga. Kapal-kapal itu tak hanya membawa ragam muatan, tetapi juga mengangkut waktu: waktu bagi warga menuntaskan harinya, waktu bagi barang kebutuhan tiba di pasar, dan waktu bagi dua pulau untuk tetap saling merangkul ketika daratan telah lelap dalam tidur.
Bagi salah seorang penumpang, La Andi (43), tambahan waktu operasional ini memberikan rasa tenang ketika urusannya di Ambon atau Seram belum tuntas hingga petang.
“Kalau ada kapal sampai malam begini, kami tidak khawatir lagi jika urusan di Ambon selesai terlambat. Masih ada kesempatan untuk pulang,” tuturnya.
Pria yang bekerja sebagai sopir pikap muatan ikan ini mengaku bahwa layanan 24 jam memberi fleksibilitas lebih bagi ia dan rekan-rekan sesama sopir untuk membawa barang, terutama saat ada keperluan mendesak yang mengharuskan mereka segera kembali.
Jalur Hunimua-Waipirit adalah salah satu cermin utama dari kebutuhan transportasi laut di Maluku. Di wilayah provinsi dengan masyarakat yang tersebar di pulau-pulau, setiap daerah menyimpan ritme, kebutuhan, dan pola perjalanannya masing-masing.

Ada lintasan yang membutuhkan tambahan jam operasional karena padatnya arus pergerakan, ada pulau-pulau yang aksesnya masih sangat terbatas, hingga wilayah yang tak sekadar butuh tambahan perjalanan, melainkan pembukaan rute baru.
Pada 2026, ASDP melayani 24 lintasan perintis di Maluku. Sebanyak empat lintasan berada di wilayah Ambon, Buru, dan Seram, sementara 20 lainnya tersebar di Maluku Tenggara. Jaringan luas ini memperlihatkan betapa panjangnya ikhtiar untuk menghubungkan pulau-pulau yang dipisahkan lautan.
Di Pulau Buru misalnya, kapal ASDP dari Pelabuhan Galala menuju Namlea berlayar setiap dua hari sekali pada pukul 20.00 WIT. Frekuensi pelayaran ini berpotensi meningkat apabila KMP Tatihu milik Pemerintah Kabupaten Buru yang dikelola Perumda Panca Karya kembali beroperasi.
Sementara di Maluku Tenggara, jaringan perintis menjangkau pulau-pulau dengan karakter geografis beragam. Di sana, pelayaran bukan sekadar perkara memindahkan penumpang antar-pelabuhan, melainkan urat nadi yang memungkinkan warga di pulau-pulau kecil tetap terhubung dengan dunia luar.
Sebab, makin jauh perjalanan dari pusat kota, makin terasa pula makna mendalam dari sebuah pelayaran.
Ketika jalur baru dibuka
Penguatan konektivitas antarpulau tidak berhenti pada layanan 24 jam semata. Masih banyak pulau di Maluku yang membutuhkan akses penyeberangan demi menopang pertumbuhan ekonomi, memajukan pariwisata, serta memperlancar distribusi logistik.
Menjawab kebutuhan tersebut, ASDP Cabang Ambon menegaskan komitmennya dengan membuka rute baru Larat–Wunlah–Seira–Saumlaki di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dilayani oleh KMP Temi sejak 13 Juli 2026, pembukaan rute ini merupakan respons atas permohonan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk membuka keterisolasian sejumlah wilayah yang selama ini minim akses transportasi.
Pada tahap awal, KMP Temi berlayar dua kali dalam sebulan, tepatnya pada minggu kedua dan keempat. Frekuensi ini menyesuaikan jadwal kapal yang juga harus melayani rute lain, serta memperhitungkan jarak tempuh yang cukup jauh. Pelayaran dari Tual menuju Larat saja memakan jarak hingga 100 mil laut, sebelum kapal melanjutkan perjalanannya menuju Wunlah, Seira, hingga berakhir di Saumlaki.

Meski dengan operasional yang terbatas, kehadiran kapal di wilayah terpencil ini teramat berarti. Setidaknya, harapan untuk membawa kendaraan, mengirim barang dagangan, dan melangkah lebih jauh dari pulau asal tetap terbentang.
“Dengan adanya rute ini, kami punya kesempatan untuk bepergian. Mudah-mudahan ke depan jadwalnya bisa lebih sering, karena masyarakat sangat membutuhkan akses seperti ini,” tutur Fernando (28), warga Tanimbar.
Penerapan kapal 24 jam hingga penambahan rute baru bukan sekadar peningkatan layanan teknis. Ini adalah narasi tentang bagaimana masyarakat kepulauan menjaga nyala kehidupannya agar terus bergerak. Di dermaga, setiap kapal yang melepas tali tambat membawa kisahnya masing-masing.
Saat kapal bertolak meninggalkan dermaga, cerita-cerita itu ikut berlayar menembus pekatnya malam. Hunimua perlahan menyiap di kejauhan, Waipirit menanti di seberang, dan pulau-pulau lain kembali memeluk harapan.
Di Maluku, merawat konektivitas bukan sekadar menghubungkan titik-titik di atas peta, melainkan memastikan kehidupan di tiap pulau tetap memiliki jalan untuk saling menyapa. Dan selama lampu navigasi kapal masih menyala di tengah lautan, denyut kehidupan itu akan terus berdetak.
Semua ini bukan cuma penanda lancarnya sebuah pelayaran, melainkan bukti nyata hadirnya negara di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP), sejalan dengan ikhtiar ASDP dalam mewujudkan semboyannya: “We Bridge The Nation” (Menjadi Jembatan Nusantara).