TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Cek Kesehatan Gratis (CKG) dapat membantu masyarakat mengetahui lebih awal masalah kesehatan yang sebelumnya tidak disadari.
Salah satu temuan dalam CKG di Jakarta adalah dislipidemia, yakni kondisi ketika kadar lemak dalam darah berada di luar batas normal.
Pada Triwulan III 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat dislipidemia ditemukan pada 67 persen dari 97.344 peserta skrining berusia di atas 40 tahun yang memiliki hipertensi atau diabetes melitus.
Namun, hasil skrining yang mengarah pada dislipidemia bukan berarti pemeriksaan selesai. Hasil tersebut perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan lanjutan dan penilaian risiko kesehatan.
Epidemiolog Dicky Budiman menekankan pentingnya tindak lanjut setelah skrining.
"Jadi perlu konfirmasi ulang. Bahkan yang data yang ingin saya tahu lebih banyak juga tentang misalnya berapa persen yang tertangani setelah screening ini juga belum ada datanya," ujar Dicky dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Menurut Dicky, langkah berikutnya dapat berupa pemeriksaan profil lipid puasa dan penilaian risiko penyakit kardiovaskular.
Pemeriksaan tersebut membantu tenaga kesehatan melihat kadar lemak darah secara lebih lengkap sekaligus menilai risiko penyakit yang berkaitan dengan pembuluh darah.
Dislipidemia dapat muncul bersamaan dengan faktor risiko lain, seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas. Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular aterosklerotik, termasuk penyakit jantung koroner dan stroke.
Pada kondisi tertentu, kadar trigliserida yang sangat tinggi juga dapat meningkatkan risiko pankreatitis akut.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan kondisi kesehatan atau menentukan obat sendiri hanya berdasarkan hasil skrining.
Baca juga: Definisi Kulit yang Sehat, Perhatikan Tips dan Perawatan untuk Menjaga Kesehatannya
Selain pemeriksaan lanjutan, penanganan dislipidemia juga berkaitan dengan perubahan kebiasaan sehari-hari.
Dicky menyebut langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, menurunkan berat badan bila berlebih, dan tidak merokok.
Aktivitas fisik perlu dilakukan secara teratur. Dalam penanganan yang disampaikan Dicky, aktivitas fisik lebih dari 150 menit per minggu menjadi salah satu bagian modifikasi gaya hidup.
Untuk kelompok tertentu, dokter dapat mempertimbangkan obat penurun kolesterol seperti statin sesuai indikasi dan kondisi pasien.
Artinya, kebutuhan obat tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan hasil satu kali skrining.
Dicky juga menyoroti pentingnya kesinambungan layanan setelah CKG. Hasil skrining perlu terhubung dengan layanan kesehatan lanjutan, seperti puskesmas, Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), maupun layanan terkait penyakit tidak menular.
"Jadi persentase terkontrol, jadi bukan hanya jumlah ter-screening. Kemudian juga ketersediaan statin dan pemeriksaan lipid di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama). Di sisi lain kebijakan hulu ya ada eliminasi lemak trans, pelabelan gizi depan kemasan, pengendalian gula, garam, dan lemak. Juga adanya ruang publik untuk aktivitas fisik, germas, ataupun aktivitas lain," kata Dicky.
Dengan demikian, hal penting setelah menemukan dugaan dislipidemia melalui CKG bukan sekadar mengetahui kadar lemak darah, melainkan memastikan hasil tersebut ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan.
CKG diharapkan tidak berhenti pada pendataan faktor risiko, tetapi menjadi pintu masuk untuk membantu masyarakat menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi di kemudian hari.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.