TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sejak masih kuliah di UNS Solo, Kinanti Sedah Mirah (22), sudah menekuni usaha craft dengan mengikuti program inkubasi kewirausahaan kampus.
Kini produk-produk Sedah sudah terjual ke sejumlah daerah, bahkan ada juga yang terjual ke Australia.
Tas macrame berwarna beige hingga kecokelatan dari secang tersusun di salah satu stan expo kegiatan 'Bursa Wirausaha Unggulan' di Gedung Muladi Dome, Jalan Prof Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, beberapa waktu lalu.
Tak jauh dari tas-tas itu, terlihat produk dengan warna biru dari indigo.
Produk-produk itu dibuat oleh Kinanti Sedah Mirah, generasi Z yang sejak 2023 menekuni usaha craft.
Ia mengembangkan berbagai produk kerajinan dengan proses yang sebagian besar manual dan penggunaan pewarna alam.
“Ada secang, ada indigo yang warna biru itu. Selain indigo, ada jolawe, mahoni, dan daun mangga," kata Sedah ditemui Tribun Jateng di sela-sela expo tersebut.
Sedah memilih berwirausaha seusai menyelesaikan kuliah dan menciptakan lapangan baru.
Ia bercerita, usaha craft itu sendiri bermula ketika ia masih menjadi mahasiswa UNS.
Ia mengikuti program inkubasi kewirausahaan kampus, yang memberikan pendampingan untuk mengembangkan usahanya.
"Jadi seperti ini saya menghadirkan hasil-hasil dari inkubasi," ungkapnya.
Sehari-hari, Sedah menekuni usaha tersebut di Gambirejo RT 02 RW 03, Kelurahan Joglo, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.
Dalam pengembangan produk, penggunaan bahan alami menjadi salah satu kekhasan buatan Sedah.
Proses pembuatannya pun masih didominasi pekerjaan tangan.
Dia mengatakan, sekitar 95 persen produksi dilakukan secara handmade.
"Mungkin yang pakai mesin cuma inner-nya aja karena dia akan dijahit," tuturnya.
Sedah menyebutkan, sejumlah produk berhasil dibuatnya, mulai dari tas, sandal, holder botol, hingga aneka aksesoris.
Produk tersebut tidak hanya dipasarkan di sekitar Solo.
Ia telah menjangkau sejumlah kota di Indonesia, seperti Semarang, Jakarta, Bandung, dan Bali.
Produk kerajinannya juga dikirim ke berbagai wilayah Indonesia hingga Australia.
"Paling banyak memang Bali permintaannya saat ini. Selain itu, Solo juga ada dan kota-kota besar seperti Semarang, Jakarta, Bandung, dan shipping dari Sabang sampai Merauke," sebut dia.
Bernilai seni
Menurut Sedah, konsumen produk kerajinannya merupakan orang yang memiliki ketertarikan terhadap seni dan menghargai proses pembuatan produk.
Ia menyebut, konsumennya umumnya berada pada usia 25 hingga 45 tahun.
“Lebih ke orang-orang yang suka seni dan menghargai seni larena ini kan handmade, bukan untuk yang suka dengan fast fashion," tuturnya.
Dalam sebulan, produksi kerajinan yang dikerjakan Sedah mencapai sekitar 500 hingga 700 produk.
Namun, untuk tas, produksinya maksimal 100 buah per bulan.
"Per bulannya kami ada di 500 pcs dan maksimalnya di 700 pcs. Itu untuk semua ya, tapi kalau tas ini kami maksimal di 100 pcs per bulan," sebutnya.
Harga produk yang dibuatnya dijual mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Ia menyebut, untuk produk dengan harga tertinggi menggunakan pewarna indigo.
"Untuk tas, harga dari yang kecil ini Rp 69.000. Ada yang sampai Rp 549.000 warna indigo," ungkapnya.
Sedah menyebutkan, saat ini ada delapan orang yang terlibat dalam proses produksi.
Sebelum bekerja, para mitra perlu mendapatkan pelatihan dan melalui proses seleksi untuk menyesuaikan keterampilan mereka dengan kebutuhan produksi.
"Jadi, memang saya waktu meng-hire mitra itu harus ngajarin dulu satu per satu dan seleksi," ujarnya.
Sedah menambahkan, dalam menggeluti usaha kerajinan tangan ini, sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan yang kini dihadapi.
Menurutnya, usaha craft membutuhkan tenaga dengan keterampilan khusus sehingga tidak mudah mencari pengrajin yang sesuai.
"Tapi kalau sekarang ini yang paling menantang adalah SDM. Karena untuk usaha craft yang memerlukan SDM yang khusus dengan skill yang khusus itu lebih susah karena tidak sembarang cari orang," ungkapnya. (Idayatul Rohmah)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.