TRIBUN-BALI.COM - Berdasarkan data Komdigi 2026, sebanyak 235 juta penduduk Indonesia telah memiliki akses internet, dengan tingkat penetrasi sebesar 81,72 persen.

Namun, konektivitas yang luas belum otomatis membuat teknologi mampu memahami masyarakat Indonesia secara akurat.

Sebagian besar model kecerdasan buatan (AI) masih dikembangkan menggunakan data dan konteks dari luar negeri sehingga belum selalu akurat dalam mengenali bahasa, budaya, dan kebutuhan lokal.

Menjawab tantangan tersebut, GoTo baru-baru ini meluncurkan LLM open source terbaru dengan 27 miliar parameter. LLM terbaru ini memungkinkan, model mempelajari pola bahasa dan konteks yang lebih kompleks serta memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari pengolahan informasi hingga pengembangan layanan digital.

Baca juga: GK FEST 2026 Konfirmasi Seluruh Artis, Ada Naykilla Hingga Bagus Wirata, Musik &Hiburan Seru di Bali

Baca juga: Bandara Ngurah Rai Tambah Konektivitas ke Australia, TransNusa Buka Rute Denpasar-Melbourne pp

LLM 27 miliar parameter menjadi langkah strategis GoTo, agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi global, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang relevan bagi masyarakatnya.

Saat menghadiri Bali Tech Week 2026, CEO Grup GoTo, Hans Patuwo, mengatakan bahwa Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI buatan luar negeri dengan baik.

"Namun, kita juga perlu mengembangkan AI buatan sendiri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan lokal.
Kami berupaya menjawab tantangan ini dengan mengembangkan AI yang relevan secara lokal
bagi para pengguna kami.

Membuka akses model ini kepada publik adalah cara kami berkontribusi untuk negara. Kami ingin turut membangun fondasi pengembangan AI yang memahami konteks lokal dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja di Indonesia,” jelas Hans dalam siaran persnya. 

Inisiatif LLM open-source terbaru dari GoTo ini sejalan dengan Visi Indonesia Digital 2045 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis inovasi.

Model ini dilatih menggunakan beragam sumber berbahasa Indonesia, seperti publikasi media, situs resmi pemerintah, dan data bahasa daerah. Dengan ukuran 27 miliar parameter, LLM ini sangat mumpuni untuk menangani berbagai tugas bahasa yang kompleks, namun tetap ringan untuk dijalankan secara mandiri di peladen (server) milik universitas, startup, atau institusi publik tanpa memerlukan pusat data yang besar.

GoTo juga menggandeng perguruan tinggi, untuk menjaga kualitas dan ketepatan data, salah satunya melalui kerja sama dengan Universitas Sumatera Utara dalam pengumpulan dan validasi data bahasa Batak.

Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan AI, tetapi juga membuka ruang agar bahasa dan pengetahuan daerah dapat terwakili dalam perkembangan teknologi. 

Penguatan teknologi juga perlu diikuti dengan pengembangan talenta. Karena itu, GoTo mempekerjakan mahasiswa magang dari tujuh universitas yang tersebar dari Sumatera hingga Sulawesi, termasuk Universitas Udayana di Bali.

Para mahasiswa ini bekerja langsung bersama tim AI GoTo dalam berbagai proyek konkret, mulai dari persiapan data dan pelatihan model hingga tahap pengujian. Mereka juga turut berkontribusi dalam melatih teknologi speech (suara) bahasa Indonesia milik GoTo serta membantu proses pengumpulan data bahasa Batak.

Pengembangan AI lokal pada akhirnya bukan sekadar perlombaan teknologi. Tantangan utamanya adalah memastikan kemajuan digital benar-benar memahami Indonesia, melibatkan talenta daerah, serta menghasilkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan hingga tingkat lokal. (*)

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.