TRIBUN-MEDAN.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026).
IHSG hari ini anjlok 81,12 poin atau 1,52 persen ke level 5.247,24. Berdasarkan data perdagangan, IHSG sebelumnya ditutup di level 5.328,36.
Pada awal perdagangan, indeks bergerak di rentang 5.185,53 hingga 5.250,94. Tekanan di pasar saham domestik terlihat dari dominasi saham yang melemah.
Sebanyak 557 saham terkoreksi, sedangkan 82 saham menguat dan 324 saham lainnya tidak bergerak.
Nilai transaksi saham tercatat sebesar Rp 978,4 miliar, dengan volume perdagangan mencapai 1,935 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 112.500 kali. Kapitalisasi pasar saham Indonesia tercatat sebesar Rp 9.248 triliun.
Pelemahan IHSG hari ini diikuti oleh sejumlah indeks saham lainnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Baca juga: Di Tengah Pasar Saham yang Anjlok, Presiden Prabowo Sebut MSCI Mau Takut-takuti Indonesia
Indeks LQ45 turun 8,35 poin atau 1,56 persen ke level 527,41. Indeks Jakarta Islamic Index (JII) melemah 5,74 poin atau 1,85 persen ke posisi 305,19.
Sementara itu, indeks Kompas100 turun 11,96 poin atau 1,74 persen ke level 674,31. Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terkoreksi 2,84 poin atau 1,57 persen ke posisi 178,59.
Adapun indeks IDX30 turun 4,47 poin atau 1,49 persen ke level 296,25. Indeks JII70 juga melemah 2,24 poin atau 1,84 persen ke posisi 119,57.
Pelemahan mayoritas indeks domestik dan sejumlah bursa Asia tersebut menunjukkan tekanan yang meluas di pasar saham pada awal perdagangan.
Pelemahan pasar saham juga terlihat di sejumlah bursa Asia. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 454,48 poin atau 1,92 persen ke level 23.197,39.
Indeks KOSPI Composite Korea Selatan melemah 113,93 poin atau 1,99 persen ke posisi 5.621,73. Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang turun 467,38 poin atau 0,72 persen ke level 64.153,86.
Indeks SSE Composite China terkoreksi 28,83 poin atau 0,78 persen ke posisi 3.684,19. Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia turun 43 poin atau 0,49 persen ke level 8.788,30.
Sementara itu, Singapura membantah tuduhan bahwa dua perusahaan investasi milik negara, Temasek dan GIC, berada di balik kejatuhan pasar saham Indonesia.
Bantahan itu disampaikan setelah mantan Menteri Perdagangan Indonesia Muhammad Lutfi menuding Temasek dan GIC bekerja di belakang layar untuk mendorong penyedia indeks global (MSCI) menurunkan status pasar Indonesia.
Menurut Lutfi, langkah tersebut sengaja dilakukan untuk memicu kepanikan sehingga aset-aset Indonesia dapat dibeli dengan harga murah.
Merespons hal tersebut, Kepala Asia-Pasifik Temasek Global Investments Fock Wai Hoong menyebut tuduhan itu tidak berdasar.
“Tidak ada seorang pun dari Temasek, baik institusi maupun individu di dalamnya, yang pernah menghubungi MSCI untuk memengaruhi keputusan apa pun yang mereka buat terkait bursa mana pun di kawasan ini,” kata Fock, seperti dikutip South China Morning Post, Rabu (21/10/2026).
Senada, GIC juga membantah tuduhan tersebut. Perusahaan investasi milik negara Singapura itu mengatakan pihaknya telah berinvestasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun.
“Keputusan investasi kami tidak didorong oleh klasifikasi indeks atau pandangan terhadap suatu pasar secara keseluruhan, melainkan oleh fundamental perusahaan dan aset,” kata GIC dalam sebuah pernyataan.
Adapun tuduhan Lutfi muncul setelah MSCI mengumumkan akan melakukan konsultasi resmi untuk menentukan apakah status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market) akan diturunkan menjadi pasar mandiri (stand-alone market).
MSCI menyebut sejumlah persoalan struktural sebagai alasan dilakukannya konsultasi tersebut, termasuk struktur kepemilikan yang tidak transparan, kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi, serta praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Pengumuman tersebut kemudian diikuti kejatuhan tajam pasar saham Indonesia. (*/tribunmedan.com)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.