Laporan wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu

TRIBUNJATIM.COM, BATU - Selama 2 tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran, program kebanggaan pemeritah, yaitu Makan Bergizi Gratis ternyata masih perlu dievaluasi.

Mesi demikian, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto ternyata dinilai memberikan manfaat bagi orang tua siswa di Kota Batu.

Terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan makan anak sekaligus mengurangi kesibukan menyiapkan bekal.

Meski mendapat respons positif, pelaksanaan program tersebut masih menyisakan banyak catatan. Mulai dari variasi menu, kecukupan protein, keseimbangan gizi, hingga keamanan makanan yang dibagikan kepada para siswa.

Seorang wali murid di Junrejo, Kota Batu, Richa Rahmawati menilai, kehadiran MBG cukup membantu keluarga, khususnya bagi orang tua yang bekerja dan memiliki keterbatasan waktu untuk menyiapkan makanan bagi anak sebelum berangkat sekolah.

Menurutnya, program tersebut dapat menjadi solusi untuk membantu memenuhi kebutuhan makan anak. Namun, kualitas makanan yang diberikan juga harus menjadi perhatian agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal.

Baca juga: Orangtua Syok Anak Jadi Korban Keracunan MBG, Susu Kotak Terasa Asam dan Pahit, SPPG Minta Maaf

“Menurut saya, program MBG ini sebenarnya cukup membantu orang tua, terutama bagi kami yang bekerja. Jadi, pada pagi hari tidak terlalu repot menyiapkan bekal anak karena sudah ada makanan yang disediakan dari program tersebut,” kata Richa Rahmawati kepada TribunJatim.com, Kamis (22/10/2026).

Kendati demikian, ia menilai pelaksanaan MBG masih perlu banyak evaluasi, terutama dalam hal penyajian menu yang sesuai dengan selera anak serta pemenuhan kebutuhan gizi.

Satu di antara hal yang menjadi perhatian wali murid adalah variasi makanan yang diberikan kepada siswa.

Menurutnya, terdapat menu yang dapat dinikmati anak, tetapi ada pula hidangan yang kurang sesuai dengan selera mereka.

Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara agar makanan yang disediakan tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga dapat dikonsumsi dengan baik oleh para siswa.

“Namun untuk pelaksanaannya, menurut saya masih perlu ada evaluasi. Dari menu yang diterima anak, terkadang rasanya enak dan anak bisa menikmati, tetapi ada juga menu yang kurang sesuai dengan selera anak,” ujarnya.

Selain variasi menu, kecukupan protein juga menjadi catatan yang perlu diperhatikan.

Ia berharap komposisi makanan yang diberikan kepada siswa dapat lebih diperhatikan sehingga kebutuhan gizi anak terpenuhi secara seimbang.

“Terkadang porsi proteinnya juga terasa masih kurang, sehingga menurut saya perlu diperhatikan lagi keseimbangan gizinya agar makanan yang diberikan benar-benar memenuhi kebutuhan anak,” jelasnyq.

Dengan demikian, evaluasi menu dinilai penting untuk memastikan makanan yang dibagikan tidak sekadar mengenyangkan, tetapi juga mendukung kebutuhan nutrisi anak.

Selain persoalan kualitas makanan, keamanan makanan menjadi perhatian lain bagi wali murid di Kota Batu.

Kejadian keracunan para siswa di Kota Batu yang pernah terjadi pada 25 September 2025 lalu usai menyantap menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Jalan Diponegoro Kelurahan Sisir Kecamatan Batu lalu dan banyaknya kasus keracunan makanan dalam pelaksanaan program MBG menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orang tua.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan gizi harus disertai jaminan makanan yang dikonsumsi siswa aman bagi kesehatan.

“Kita pasti ingin anak mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi, tetapi yang paling utama tentu makanan tersebut harus aman dikonsumsi. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan risiko bagi kesehatan anak,” tuturnya.

Ia berharap pemerintah bersama pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan MBG memperketat pengawasan terhadap seluruh tahapan penyediaan makanan.

Pengawasan tersebut, menurutnya perlu dimulai sejak pemilihan bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, hingga pendistribusian makanan ke sekolah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan makanan yang diterima siswa memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.

"Harapan kami pemerintah dan pihak yang terlibat bisa lebih memperketat pengawasan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, kebersihan dapur, penyimpanan, hingga distribusi makanan ke sekolah. Kalau ada pelanggaran, harus ada evaluasi dan tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang,” harapnya.

Lebih lanjut, Richa berharap evaluasi program MBG dilakukan secara berkala dengan memperhatikan masukan dari pihak sekolah dan orang tua siswa.

Menurutnya, keterlibatan orang tua dapat membantu penyelenggara mengetahui kualitas makanan yang diterima anak, termasuk variasi menu, kecukupan protein, serta porsi yang disediakan.

Masukan tersebut juga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperbaiki pelaksanaan program agar lebih sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.

Ia menegaskan, keberhasilan MBG tidak cukup hanya dilihat dari penyaluran makanan kepada siswa, tetapi juga dari kualitas dan keamanan makanan yang diberikan.

“Tentu akan lebih baik jika ada evaluasi rutin dengan melibatkan pihak sekolah dan menerima masukan dari orang tua. Jadi program MBG ini tidak hanya berjalan dan membagikan makanan, tetapi benar-benar bisa memenuhi kebutuhan gizi anak dengan kualitas dan keamanan yang terjamin,” pungkasnya.


Informasi lengkap dan menarik lainnya baca di TribunJatim.com

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.