SERAMBINEWS.COM - Kulit dapat tetap terasa kering, gatal, kusam, tertarik, dan bersisik meskipun rutin menggunakan pelembap.
Seiring bertambahnya usia, produksi minyak alami kulit berkurang sehingga kemampuannya mempertahankan kelembapan menurun.
Penggunaan pembersih yang keras dapat menghilangkan minyak alami dan lipid esensial yang berfungsi menjaga kelembapan kulit.
Eksfoliasi yang terlalu jarang dapat menyebabkan penumpukan sel kulit mati, sedangkan eksfoliasi berlebihan bisa menghilangkan sebum pelindung.
Cuaca dingin, kelembapan udara rendah, dan penggunaan alat pemanas di dalam ruangan dapat mempercepat penguapan air dari kulit.
Air sadah yang mengandung kalsium dan magnesium tinggi juga dapat menjadi faktor yang memengaruhi kenyamanan kulit setelah mandi.
Baca juga: Kulit Kering dan Gatal karena Udara Dingin? Coba 10 Cara Alami Ini untuk Mengatasinya
Pemilihan pelembap yang tepat perlu mempertimbangkan kandungan humektan, emolien, dan oklusif untuk menarik, melembutkan, serta mengunci kelembapan.
Pelembap sebaiknya dioleskan segera setelah mandi ketika kulit masih setengah basah agar kelembapan lebih terjaga.
Seperti diketahui, ketika kulit terasa kering dan kasar, solusi yang paling umum terlintas di pikiran adalah segera mengoleskan pelembap dalam jumlah banyak.
Harapannya, masalah kulit ini akan selesai begitu saja. Kenyataannya, tidak selalu demikian.
Terkadang, kulit mungkin masih terasa gatal, kusam, tertarik, dan bersisik meskipun sudah rutin menggunakan pelembap ke seluruh tubuh maupun wajah setiap hari.
"Seiring bertambahnya usia, kulit kita memproduksi lebih sedikit minyak alami, mengurangi kemampuannya untuk mempertahankan kelembapan, yang membuatnya lebih rentan terhadap kekeringan," jelas Dokter Spesialis Kulit di MDCS: Medical Dermatology and Cosmetic Surgery, Marisa Garshick, M.D., F.A.A.D., mengutip Prevention, Minggu (25/10/2026).
Baca juga: Kulit Kering? Ini 5 Pelembap Alami yang Bikin Wajah Lebih Lembap, Halus, dan Sehat Alami
1. Pemakaian Pembersih Wajah yang Keras
Penggunaan produk pembersih wajah maupun tubuh yang salah bisa merusak lapisan pelindung kulit.
Beberapa sabun di pasaran rupanya mengandung surfaktan kuat yang justru secara perlahan melunturkan minyak alami dan lipid esensial. Padahal, lipid bertugas menahan kelembapan agar tidak mudah menguap.
Dokter Spesialis Kulit di MDCS, Michael Tassavor, M.D., M.S., menyebutkan bahwa hilangnya lipid membuat kulit sangat rentan terhadap iritasi dan menyebabkan rasa tertarik yang tidak nyaman setelah mencuci muka.
"Sebaiknya hindari sabun yang keras, pembersih yang sangat wangi, dan formula yang membuat kulit terasa kesat, yang dapat menghilangkan minyak alami kulit, mengganggu pelindung kulit, dan meningkatkan hilangnya air," saran dr. Garshick.
Baca juga: Kulit Kering atau Dehidrasi? Ini Bedanya Hydrator dan Moisturizer
Sebagai solusinya, beralihlah ke pembersih tanpa pewangi yang mengandung ceramide maupun asam hialuronat.
2. Eksfoliasi yang Tidak Tepat
Mengangkat sel kulit mati sangat penting untuk meremajakan wajah, tetapi frekuensi yang salah justru akan memicu masalah baru.
Jika kamu terlalu jarang melakukan eksfoliasi, produk perawatan yang menghidrasi akan sulit menyerap secara merata ke dalam kulit.
"Kurang eksfoliasi dapat menyebabkan penumpukan sel kulit mati, yang dapat menyebabkan permukaan kulit terasa kasar dan kering," jelas Dokter Spesialis Kulit di MDCS, Brendan Camp, M.D.
Di sisi lain, eksfoliasi yang terlalu agresif juga akan menghilangkan terlalu banyak sebum pelindung.
Sebaiknya, cari keseimbangan yang tepat dengan memilih bahan yang lembut, misalnya asam laktat, agar kulit tetap halus tanpa membuatnya iritasi.
3. Faktor Suhu dan Udara Ruangan
Cuaca yang terlampau dingin, terutama saat dibarengi dengan tingkat kelembapan udara yang rendah, bisa meningkatkan hilangnya kadar air secara drastis pada permukaan kulit.
Penggunaan alat pemanas di dalam ruangan juga semakin memperparah kondisi ini karena kelembapan alami di udara akan tersedot habis.
Dokter Tassavor mengingatkan bahwa lingkungan semacam ini akan membuat kelembapan menguap lebih cepat dari kulit.
Untuk menyiasatinya, nyalakan alat pelembap udara di dalam kamar tidur sepanjang malam demi mengembalikan kelembapan ruangan yang hilang.
4. Kualitas Air Mandi yang Sadah
Kandungan air di rumah tangga juga bisa menjadi dalang tersembunyi di balik rusaknya pelindung kulit.
Air sadah memiliki konsentrasi kalsium dan magnesium tinggi yang mudah berinteraksi dengan sabun, sehingga menyisakan residu.
"Meskipun air sadah belum tentu menjadi penyebab langsung kulit kering bagi semua orang, hal ini dapat menjadi faktor yang terabaikan ketika seseorang mengalami rasa ketat atau ketidaknyamanan yang terus-menerus setelah mandi," tutur dr. Tassavor.
Memasang filter pada keran air bisa menjadi pilihan opsional guna meminimalkan paparan mineral tersebut.
5. Kesalahan dalam Memilih Pelembap
Tidak semua produk diciptakan dengan kemampuan hidrasi yang sama. Jika kulit tetap terasa kencang tidak lama setelah dioleskan, artinya kamu membutuhkan formula krim yang jauh lebih kaya.
"Saya merekomendasikan untuk mencari humektan seperti gliserin dan asam hialuronat untuk menarik kelembapan, emolien seperti squalane dan shea butter untuk melembutkan dan menghaluskan kulit, serta oklusif seperti petrolatum untuk mengunci kelembapan," kata dr. Garshick.
Waktu pengaplikasian produk juga tak kalah penting dalam menjaga kesehatan kulit.
Dokter Camp mengingatkan bahwa pelembap akan bekerja paling maksimal jika dioleskan segera saat kulit tubuh atau wajah masih dalam keadaan setengah basah, misalnya sehabis mandi.
Langkah sederhana ini akan membantu menjebak sisa air di permukaan kulit agar tidak menguap begitu saja. (*)
Sumber: https://lifestyle.kompas.com/read/2026/10/25/130200820/sudah-pakai-pelembab-mengapa-kulit-tetap-kering-
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.