TRIBUNJOGJA.COM - Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (KemenEkraf/Bekraf) mendorong penguatan industri sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan berbasis kearifan lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Langkah tersebut direalisasikan melalui agenda Pelatihan Manajemen Usaha Fesyen Berbasis Fesyen Berkelanjutan yang digelar di Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta, pada 28 - 31 Oktober 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan melalui program Aktivasi Creative Hub Fesyen ini secara khusus menyasar para pelaku usaha fesyen lokal untuk menciptakan produk inovatif yang ramah lingkungan tanpa melepaskan nilai kebudayaan daerah.
Direktur Fesyen KemenEkraf/Bekraf, Iffah Sa'aidah, menegaskan, Yogyakarta memiliki potensi besar dalam pengembangan fesyen berkelanjutan karena keunggulan kreativitas para pelaku usahanya yang konsisten mengakar pada budaya lokal.
"Sebagai contoh, di Yogyakarta ini, kita melihat salah satu potensinya adalah sustainable fashion. Kita tahu banyak sekali industri fashion di sini. Tapi, dengan banyaknya industri, ada limbah yang perlu kita pikirkan juga, dan saya lihat di sini pelaku fashion-nya sangat inovatif dan kreatif," katanya, Rabu (28/10/26).
Melalui rangkaian pelatihan, KemenEkraf menggandeng mentor dari Binus University untuk mendampingi 40 brand owner terkurasi dalam menerapkan metode upcycling.
Yakni, mengolah kembali pakaian tidak terpakai maupun kain perca menjadi produk baru berdaya saing tinggi, mengingat sektor fesyen selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar.
"Jadi, dari pakaian yang mungkin sudah tidak terpakai, atau kain-kain perca yang dihasilkan dari industrinya, itu nanti akan di-create menjadi suatu produk based on wisdom masing-masing, dilihat dari apa produknya, karakteristiknya seperti apa, begitu," jelasnya.
Pendekatan fesyen berkelanjutan dinilai sangat relevan dengan Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional, sekaligus menjadi momentum penting untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Menurutnya, perpaduan antara storytelling ramah lingkungan dan kearifan lokal menjadi kunci utama agar produk fesyen Yogyakarta mampu bersaing di kancah global.
"Bukan sekadar tren, sustainable fashion ini memang sesuatu yang perlu untuk terus dikembangkan. Dengan mengangkat sustainable fashion, saya percaya bukan hanya market yang di dalam saja yang digarap, tapi di internasional juga bisa kita garap," tandasnya.
Adapun dalam penyelenggaraannya, KemenEkraf berkolaborasi dengan Pemda DIY melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Pariwisata, hingga Bank Indonesia untuk memfasilitasi jenama-jenama lokal.
Kendati demikian, pihaknya tidak bisa menampung seluruh animo pelaku industri fesyen di Kota Pelajar, sehingga harus dilakukan proses kurasi yang cenderung ketat.
"Karena Pemda DIY dan Bank Indonesia kan tentunya sudah punya daftar jenama-jenamanya, yang selama ini mendapat pendampingan. Kemudian, itu kita kumpulkan. Kemarin sebetulnya ada 92 yang melakukan registrasi untuk mengikuti pelatihan ini," katanya.
"Tetapi para mentor itu, yang dari Binus University ya, mengkurasi lagi jadi sekitar 40, kira-kira mana yang betul-betul proper dan memang layak untuk diberikan pelatihan ini, untuk brand-brand yang istilahnya sudah berjalan dan atau eksisting lah," pungkas Iffa. (aka)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.