Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Bakal Calon Rektor Universitas Lampung (Bacarek Unila) nomor urut 6, Prof Anna Gustina Zainal, menegaskan kesiapannya mengemban amanah memimpin Unila periode 2027-2031.  
​
Dalam pemaparan visi misi, Prof Anna akan membawa Unila sebagai ekosistem hilirisasi inovasi yang berdaya saing dunia namun tetap berakar kuat pada nilai budaya dan kemandirian bangsa.  

Prof Anna menjelaskan dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Unila 2025-2045, diharapkan hilirisasi riset dan kampus inklusif. 

Pada periode 2027-2031 berada pada masa transisi krusial dari tahap pertama menuju tahap kedua pembangunan kampus. 

​"Tugas saya jika terpilih nantinya adalah menuntaskan tahap pertama sekaligus membuka jalan bagi akselerasi hilirisasi riset pada tahap kedua," kata Prof Anna Gustina Zainal saat menyampaikan visi misi di GSG Unila, Rabu (28/10/2026).  
​
Ia menerangkan, guna mewujudkan visi misi tersebut, dirinya merumuskan empat misi utama yang diturunkan ke dalam 6 strategi utama dan 13 program unggulan.  

​Adapun keempat visi misi tersebut meliputi penguatan tata kelola, inovasi berdampak dan hilirisasi riset hingga jejaring global yang bersih, serta kepemimpinan berbasis nilai budaya.  
​
Anna dalam pemaparannya menyoroti capaian sumber daya manusia (SDM) pengajar di Unila. 
 
​Berdasarkan target Renstra Unila 2029, separuh dari total dosen disyaratkan berpendidikan S3 dan 15-20 persen menduduki jabatan guru besar atau profesor. 

​Namun kondisi saat ini mencatat baru ada sekitar 169 dosen bergelar guru besar (11,7 persen) dan 36 persen dosen yang memegang gelar S3.  
​
"Untuk mengejar target tersebut, kami menyiapkan skema khusus guna membantu kenaikan jabatan fungsional dosen dan pemenuhan beban kerja dosen (BKD) melalui peningkatan dana penelitian serta pengabdian masyarakat," ujar Anna yang merupakan guru besar Fisip Unila ini. 
​
Kemudian pihaknya menyiapkan program pembiayaan penelitian satu orng dosen, satu penelitian dan yang disesuaikan dengan jenjang jabatan fungsionalnya.  

Anna menegaskan pentingnya Best University Innovation, di mana hasil riset dosen tidak boleh hanya selesai di atas kertas atau publikasi jurnal semata. 

Riset harus bisa dihilirisasi agar dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah, industri, dan masyarakat luas.  

​"Tidak hanya bagi dosen, pengembangan tenaga kependidikan (tendik) juga diprioritaskan lewat pemberian beasiswa lanjut studi dan sertifikasi kompetensi," terangnya.

Pihaknya melakukan terobosan penting yakni komitmen pada sektor kemahasiswaan. 

"Kami bertekad mengalokasikan pagu anggaran kegiatan mahasiswa minimal 10 persen dari total anggaran kampus," kata Anna. 

​"Langkah alokasi anggaran 10 persen untuk kemahasiswaan ini menjadi komitmen nyata yang bahkan belum dilakukan universitas lain di Indonesia," terusnya.

Dirinya juga ​berencana melakukan revitalisasi laboratorium, optimalisasi pusat penelitian berbasis kepakaran, peningkatan pendapatan mandiri Unila.

Hingga penguatan identitas budaya kampus lewat penamaan gedung dan jalan menggunakan nama tokoh Unila serta tokoh daerah Lampung.  
​
Dirinya menekankan terciptanya iklim kampus yang aman, inklusif, dan ramah disabilitas. 

Pihaknya akan memfasilitasi pusat konseling bagi seluruh dosen, tendik, dan mahasiswa.  

​"Layanan konseling ini tidak hanya diperuntukkan bagi korban, tetapi juga difokuskan sebagai langkah pencegahan terhadap segala bentuk aksi kekerasan di dalam lingkungan kampus," kata Anna. 

Anna mengajak seluruh elemen universitas untuk saling bergandengan tangan.  

"Unila tidak bisa berdiri kokoh hanya dengan satu orang saja. Maka harus bergerak bersama-sama, mulai dari mahasiswa, dosen, tendik, alumni hingga pemerintah daerah untuk mewujudkan Unila yang unggul dan berdaya saing global," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra) 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.