Liputan6.com, Jakarta - CEO Strive Matt Cole, insiden peretasan Binance senilai US$ 6,3 miliar atau Rp 114,23 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.130) dinilai tidak merusak investasi jangka panjang untuk bitcoin (BTC).


Mengutip Cointelegraph, Minggu (1/11/2026), dalam acara Chain Reaction, Matt Cole menuturkan, peretasan itu tidak mengubah pandangan investasi jangka panjang terhadap bitcoin. Ia mengibaratkan serangan terhadap dompet digital Binance layaknya perampokan bank. Namun, hal itu bukan sebagai kegagalan pada jaringan bitcoin.


Berdasarkan data CoinGecko, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 77.400 atau Rp 1,4 miliar pada Sabtu, 31 Oktober 2026 pukul 16.00, sekitar 4% lebih rendah dibandingkan harga sesaat sebelum serangan terjadi pada Kamis pekan ini.


Srive, perusahaan yang mencatatkan bitcoin dalam neraca keuangannya melaporkan kepemilikan 43.000 BTC pada 23 Oktober 2026.


“Saya tetap yakin dalam jangka waktu yang wajar, hal ini tidak mengubah tesis investasi terhadap bitcoin,” tutur Cole.


Cole menambahkan, penurunan harga bitcoin (BTC) tidak separah yang diperkirakan. Hal ini mengingat skala peretasan yang besar serta kondisi pasar yang secara umum sedang lemah. Meski demikian, ia mengakui masih terlalu dini untuk memastikan apakah harga kripto ini telah mencapai titik terendahnya.


Cole menggambarkan kondisi pasar saat ini berada dalam fase pemulihan "awal musim semi" yang mungkin berlangsung selama enam hingga sembilan bulan ke depan, di mana harga diperkirakan akan naik secara bertahap, bukan melonjak drastis ke rekor tertinggi baru.


Direktur Wirex, Paul Chapman juga menegaskan perbedaan antara serangan terhadap Binance dengan kompromi pada jaringan Bitcoin. "Penting untuk dipahami bahwa Bitcoin itu sendiri tidak diretas; serangan ini menyasar sistem milik satu perusahaan, bukan jaringannya," ujarnya kepada Cointelegraph.


 



Reaksi Bitcoin Dibandingkan dengan Kasus Bybit


Menurut Glassnode, peretasan Binance pada Kamis merupakan peretasan mata uang kripto terbesar yang pernah tercatat, dengan nilai sekitar US$ 6,3 miliar, jumlah yang melampaui total kerugian dari sembilan peretasan terbesar lainnya jika digabungkan. Rekor sebelumnya dipegang oleh eksploitasi terhadap Bybit senilai US$ 1,5 miliar atau Rp 27,98 triliun pada Februari 2025.


Glassnode mencatat tiga dari 10 peretasan kripto terbesar telah terjadi sejak awal 2025, dan semuanya melibatkan bursa kripto. Sebagai perbandingan, menyusul peretasan Bybit pada 2025, harga Bitcoin turun sekitar 5% dari hampir US$ 100.000 menjadi sekitar US$ 95.000 di tengah insiden tersebut dan volatilitas pasar yang lebih luas, menurut laporan pasar dari Bitfinex.


Data dari Anchorage Digital yang dikutip oleh CNBC menunjukkan, rata-rata penurunan harga Bitcoin dalam 24 jam pertama setelah berbagai insiden peretasan bursa kripto sebelumnya mencapai 8,3%.Peretasan Binance mengungkap kerentanan keamanan bursa tersebut.


 



Menemukan Transaksi Ethereum


Aset digital kripto Ethereum (ETH). (Foto by AI)
Aset digital kripto Ethereum (ETH). (Foto by AI)

CEO Blockaid, Ido Ben-Natan, menyatakan, para penyerang tampaknya telah menyusupi proses penandatanganan transaksi di Binance. Pada Jumat, Binance menyatakan tidak menemukan bukti adanya kebocoran kunci privat dompet (wallet private keys), meskipun investigasi masih terus berlangsung.


Analisis Blockaid menemukan sebuah transaksi Ethereum yang memuat 50 otorisasi yang telah ditandatangani, yang mencakup sejumlah transaksi berbeda.


Salah satu otorisasi tersebut memungkinkan kode yang dikendalikan oleh penyerang untuk beroperasi melalui dompet pengguna. Menurut Ben-Natan, pemeriksaan sebelum proses penandatanganan seharusnya dapat mencegah otorisasi berbahaya tersebut.


 


Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.