TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Pangan (Kemenko Pangan) bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyiapkan strategi besar dalam pengelolaan tata air dan mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di masa datang.

Langkah ini diambil untuk mencegah bencana lingkungan dan mengamankan posisi Kalteng sebagai salah satu lumbung swasembada pangan, energi dan air nasional.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurrofiq, mengungkapkan, pemerintah pusat dan daerah telah menyusun rencana jangka menengah untuk memperkuat ketahanan kawasan gambut dari ancaman kebakaran. 

"Dalam rencana jangka menengah, bapak gubernur bersama kita merencanakan untuk melakukan pengaturan kanalisasi, kemudian membuat intake-intake di Sungai Kahayan untuk menaikkan Sungai Kahayan pada lokasi-lokasi kebakaran hutan dan lahan," ungkap Hanif saat ditemui usai rapat koordinasi penanganan karhutla di Santika Hotel, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

"Sehingga ke depan, kita akan memiliki kapasitas yang cukup mumpuni dan cukup resilien terhadap gangguan atau bencana kebakaran hutan dan lahan," sambung dia.

Hanif menjelaskan, skenario infrastruktur tersebut disusun karena Kalimantan Tengah memegang peranan vital dalam target ekonomi dan ketahanan pangan nasional. 

Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi khusus kepada Kemenko Bidang Pangan untuk menyelesaikan persoalan karhutla.

"Ini skenario yang disusun karena Kalimantan Tengah merupakan bagian dari kawasan swasembada pangan, energi, dan air. Oleh bapak presiden melalui Instruksi Presiden Nomor 11 dimintakan kontribusi serta keseriusan Kemenko Pangan untuk menangani itu," tegasnya.

Baca juga: Pemerintah Tak Mau Lengah Tangani Karhutla, Wamenko Pangan Singgung Ancaman El Nino hingga Desember

Untuk menjaga produktivitas lahan gambut secara berkelanjutan, Kemenko Pangan juga akan menerapkan konsep pertanian ramah gambut yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat desa.

"Jadi lebih baik kita lakukan kegiatan rewetting dengan perendaman kembali, kemudian revegetasi dengan jenis-jenis yang mampu tumbuh pada saat gambut itu berair untuk mengembalikan sifat gambutnya, dan revitalisasi dengan membangun paludikultur, Ini adalah sistem pertanian yang ramah gambut yang dilakukan oleh masyarakat desa melalui Masyarakat Desa Peduli Gambut," jelas Hanif Faisol.

Hanif menambahkan, setelah masa krisis kebakaran berlalu, pemerintah akan segera mematangkan desain infrastruktur fisik secara permanen dengan menggandeng Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). 

Salah satu infrastruktur yang akan dibangun yakni sumur bor permanen di sebagian besar titik rawan kebakaran.

Baca juga: Pemerintah akan Libatkan 400 Pengusaha Tambang untuk Tangani Karhutla di Kalimantan Tengah

Nantinya, sumur bor itu digadang akan menjadi cadangan air yang bisa dimanfaatkan untuk membuat gambut menjadi selalu lembap.

"Jadi rangkaian kegiatan ini setelah ini akan kami susun. Begitu kebakaran usai, dalam waktu segera kita akan permanensasikan sumur bor dan kanal-kanal itu melalui semenisasi. Kedua, kita akan desain dengan detail bekerja sama dengan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional yang dikepalai oleh Prof. Satyawan," urainya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah Edy Pratowo menegaskan, pihaknya juga bergerak cepat dari sisi mitigasi jangka pendek, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat yang terdampak akibat musim kemarau dan karhutla.

Dirinya juga mengaku sejalan dengan rencana pemerintah pusat dengan pembangunan infrastruktur sumur bor permanen tersebut.

"Pemerintah provinsi juga menyiapkan sumur bor untuk air bersihnya. Langkah-langkah itu sudah disiapkan juga, bahkan kemarin kita siapkan untuk pembangunan sumur bor dan tandon-tandon untuk penyiapan air bersih yang bisa dikonsumsi buat masyarakat," ujar Edy.

Dari sisi pencegahan, ia menekankan bahwa kunci utama agar karhutla tidak menghambat aktivitas ekonomi dan pertanian di masa depan adalah dengan menjaga tingkat kelembapan ekosistem gambut secara konsisten.

Antisipasi dini sebelum memasuki musim kemarau sangat menentukan keberhasilan pengendalian lahan mengingat karakteristik lahan gambut yang jauh lebih sulit dipadamkan dibandingkan dengan lahan mineral biasa.

"Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita ke depan bisa memitigasi agar ini tidak terjadi lagi. Kuncinya adalah seperti disampaikan Pak Wamenko tadi, kita menjaga ekosistem gambutnya. Ekosistem gambut ini supaya tetap lembap dan terjaga, itu harus dipersiapkan sarana prasarananya yang memadai," kata dia. 

"Salah satunya penyediaan sumur bor yang dibuat sedemikian dengan semenisasi, kemudian menjaga agar hidrologi air itu tetap terjaga di wilayah gambut," tukas Edy.

 

 

 

 

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.