-
Rekayasa lalu lintas (lalin) di Puncak dilakukan pada hari ini. Selain ramai oleh mereka yang mau liburan, ada juga joki sang penunjuk jalan.
Hasan (35) adalah warga asli Tangerang yang berniat untuk liburan ke Puncak bersama keluarga Sabtu (5/4/2025). Buka tutup (one way) yang diberlakukan sejak siang memberhentikan perjalanannya.
"Rencana mau ke Cianjur, udah nyewa vila sama saudara," kata pria yang mengenakan peci hitam tersebut.
Ia mengaku sudah terjebak sampai dua jam lebih sejak tiba di Simpang Gadog. Buat Hasan, liburan ke Puncak menjadi salah satu penghiburan, macet tak apa-apa asal anak senang.
Sayang, di hari kedua liburan, ia mendapat kabar duka dari sanak saudara di Tangerang. Alhasil, ia harus turun gunung dan kembali dengan menantikan buka tutup lalin.
Saat sedang menunggu, Hasan mengaku ditawari jalan alternatif oleh joki-joki yang mangkal di area buka tutup lalin. Ia menolak karena belakangan kasus pemalakan sering terjadi dengan metode seperti ini.
"Tadi sih ditawarin pego (Rp 150 ribu) sampe di jalur alternatif yang dia tahu. Tapi enggaklah, ikutin aja kaya gini buka tutup. Seru," jawabnya.
![]() |
Tak cuma wisatawan, Yana (30) seorang warga asli Cipanas yang bekerja sebagai supir pun ikut ditawari joki jalan alternatif. Ia tiba di Simpang Gadog sejak siang dan merasa suntuk untuk tetap berada di mobil. Apa lagi hujan membasahi kawasan ini selama beberapa jam setelah one way diberlakukan.
"Saya tadi nganterin penumpang ke Kedoya, Jakbar jam 6 pagi sampai di sana jam 10 siang karena kena one way juga," katanya.
Saat sedang menunggu bersama partnernya, Yana didekati oleh seorang joki. Ia ramah, mengajak ngobrol dan menawarkan bantuan jalan alternatif ke tujuan Yana. Namun, Yana menolak dengan halus. Ada pengalaman tidak enak yang ia saksikan langsung berkaitan dengan joki alternatif.
"Dulu pernah di Cisarua, ada yang minta diantar sampai Taman Safari Indonesia. Nego sampai Rp 100 ribu, pas nyampe harganya beda lagi. Berantem di situ," kenangnya.
Sebagai warga asli Cipanas, kemacetan sudah tak membuatnya gentar. Malahan, saat musim mudik begini, ia 'bersenang-senang' di tengah kemacetan.
"Males keluar tapi bosan juga di rumah. Yaudah, anggap aja turis ikut macet-macetan," jawabnya sambil tertawa.
Tahun lalu, Yana merasakan macet parah yang terjadi sampai puluhan jam itu. Singkat cerita, ia sedang selesai mengantar penumpang dari Tangerang. Ia berangkat dari Ciawi jam 10 pagi dan sampai rumah sekitar pukul 8 malam.
Namun ia tak ambil pusing, kemacetan dianggapnya sebagai pemanis perjalanan. Tinggal di kawasan wisata, destinasi wisata terdekatnya adalah Kebun Raya Cibodas dan sekitarnya. Jadi berlama-lama dijalan bisa membuatnya merasakan bagaimana rasanya memperjuangkan liburan.
![]() |
Norman (52) dan keluarga pun demikian. Mereka baru pertama kali melakukan kunjungan ke Puncak namun terjegal oleh rekayasa lalin yang dilakukan pada siang hari. Sambil makan bakso, Norman sudah menunggu sejak pukul 2 siang.
"Rencananya mau ke kafe-kafe di Puncak. Cuma sudah bosan ya, kayanya mau langsung pulang aja," ungkapnya.
Ia berangkat dari Tangerang pukul setengah dua siang, dan tiba pukul setengah tiga sore. Ia mulai tak nyaman berlama-lama di jalan tanpa kepastian.
Supri (34), menantu dari Pak Norman mengaku kecewa. Ini dijadikan pelajaran, mungkin lain kali ia akan liburan ke Puncak di hari kerja dan tidak long weekend.
Selagi menunggu buka tutup, Supri bercerita bahwa dirinya juga ditawari joki alternatif. Bahkan, ada satu joki yang konsisten bolak-balik sampai 3 kali. Yang membuat Supri bingung, jasa itu tak punya harga tetap.
"Dari tadi sudah ada 7-8 orang yang nawarin joki. Tiap maju sedikit, datang yang lain," jawabnya.
"Tadi katanya dia nawarin sampe sejauh yang dia tahu, harganya Rp 300-400 ribuan. Tapi kan kita nggak tahu di sana nanti dia minta berapa," ungkap pria asli Batam itu.
Sejujurnya, ia mengaku bingung dengan fenomena joki alternatif ini. Sebagai wisatawan, pak ogah biasa terlihat di kemacetan, tapi joki alternatif baru dalam pemahamannya.
"Mereka ramah kok, cuma ya nanti di sana itu yang kita nggak tahu," ucapnya.
Belajar dari pengalaman, Supri akan mengecek informasi lalu lintas jika ingin liburan ke Puncak di masa depan. Selain mengantisipasi macet, ia tak mau lagi bingung karena joki alternatif.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.