TRIBUNJABAR.ID - Di tengah hiruk-pikuk jalur Pantura Lama, Cirebon, sebuah pemandangan kontras tersaji.
Di pinggir jalan Cirebon yang mulus terdapat bangunan kumuh tukang tambal ban yang bertahan demi menyambung hidup.
Pemandangan tersebut ternyata menyita perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi hingga turun dari mobilnya.
Dalam kunjungannya yang spontan tersebut, Dedi Mulyadi pun menegur pria yang menempati saung kumuh yang membuka jasa bengkel, tambal ban dan las tersebut.
Saat berdialog, Dedi Mulyadi mendapati kreativitas tukang tambal ban tersebut.
Baca juga: Sidak ke SMKN 2 Subang, Dedi Mulyadi Ultimatum Sekolah Kumuh dan Minim Inovasi
Ternyata, pria tersebut mengalami kendala terkait harga sewa bangunan yang dijadikannya tempat mencari nafkah itu cukup memberatkan baginya.
Untuk menyewa saung kumuh dan jauh dari kata layak itu, ia harus membayar sewa lahan sebesar Rp10 juta per tahun demi bisa mengais rezeki.
Dengan penghasilan per hari yang tak menentu, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia juga perlu menabung untuk membayar sewa tersebut.
Alhasil selain membuka jasa tambal ban dan las, ternyata pria tersebut juga membuat kreativitas.
Untuk menambah penghasilan, ia memungut ban-ban bekas yang sudah gundul, lalu dengan telaten ia "menyudat" atau mengukir kembali motif kembang pada ban tersebut agar bisa dijual seharga Rp25.000 (ban sepeda motor) hingga Rp70.000 (ban mobil).
Hal itu membuat Dedi Mulyadi kagum dan menggali kisah tukang tambal ban tersebut lebih dalam.
Kemudian Dedi Mulyadi mendapati fakta jalan mulus di sekitar Cirebon tersebut menurunkan pendapatan jasa tukang tambal ban tersebut.
"Kalau jalan rusak, pendapatan lebih banyak yang nambal. Sekarang jalan sudah mulus, pendapatan menurun," ungkapnya pria tersebut.
Fakta tersebut seolah menggambarkan perbandingan antara kemajuan infrastruktur dan kesulitan hidup rakyat kecil.
Baca juga: Strategi WFH Ala Dedi Mulyadi: Pangkas Biaya Birokrasi Demi Genjot Pembangunan Infrastruktur
Solusi: Dibongkar dan Disulap
Meski demikian, dari kisah tukang tambal ban tersebut Dedi Mulyadi memberikan solusi menarik.
Melihat kondisi saung kumuh milik tukang tambal ban itu, Dedi Mulyadi mengambil langkah yang tak terduga.
Alih-alih sekadar menertibkan, ia meminta saung kumuh tukang tambal ban tersebut dibongkar untuk dibangun kembali menjadi tempat yang lebih layak dan bersih.
"Saya ingin membuat contoh tambal ban yang baik, bersih, dan tidak acak-acakan," tegas Dedi Mulyadi.
Tak tanggung-tanggung, Dedi Mulyadi pun menjanjikan pembangunan saung kumuh tukang tambal itu itu menjadi bangunan baru dengan atap injuk, lantai paving block, hingga fasilitas toilet.
Selama proses pembangunan satu bulan, tukang tambal ban tersebut diminta beristirahat di rumah dengan bekal yang telah diberikan Dedi Mulyadi.
Sementara biaya sewa lahan selama dua tahun ke depan pun akan dilunasi oleh Gubernur Jawa Barat tersebut.
Langkah nyata ini diambil Dedi Mulyadi untuk mengubah persepsi tempat usaha kecil dari kesan kotor menjadi fasilitas yang lebih profesional dan nyaman bagi pengguna jalan.
Dedi Mulyadi menekankan dalam pembangunannya juga pentingnya transformasi estetika dan etos kerja masyarakat demi mewujudkan wajah wilayah yang lebih istimewa.
Di perbatasan Cirebon ini, sebuah saung kumuh jasa tukang tambal ban tersebut akan segera berganti wajah, mengubah derita menjadi harapan bagi masyarakat.